
- Presiden Prabowo Subianto telah melakukan reshuffle kabinet sebanyak delapan kali, yang memicu kritik dari berbagai kalangan.
- Pengamat Fernando Emas mempertanyakan apakah reshuffle tersebut berdasarkan evaluasi kinerja atau hanya untuk kepentingan politik menjelang Pilpres 2029.
- Fernando juga menilai bahwa ambisi politik Prabowo dapat mempengaruhi stabilitas kepemimpinannya hingga akhir masa jabatan.
Frekuensi perombakan kabinet yang dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto telah menuai sorotan tajam dari berbagai kalangan.
Pengamat Kebijakan Publik, Fernando Emas, menilai bahwa reshuffle yang terjadi hingga delapan kali ini perlu dipertanyakan, apakah dilakukan berdasarkan evaluasi kinerja menteri atau sekadar untuk kepentingan politik menjelang Pilpres 2029.
Fernando mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara dengan Monitorindonesia.com pada 24 Oktober 2026.
Delapan Kali Reshuffle: Evaluasi atau Politika?
Fernando mempertanyakan keputusan-keputusan Presiden Prabowo dalam menentukan komposisi kabinetnya yang kerap berubah.
Ia menjelaskan bahwa pergantian menteri yang berulang kali ini menciptakan keraguan tentang kinerja dan kompetensi para anggota kabinet yang ditunjuk.
“Kalau mencermati pernyataan tersebut, kemungkinan Presiden Prabowo Subianto di sisa masa jabatannya akan sering melakukan reshuffle kabinet. Pemerintahan Prabowo Subianto masih berjalan dua tahun, tetapi sudah melakukan delapan kali reshuffle kabinet,” ujar Fernando.
Dalam pandangannya, reshuffle ibarat pergantian pemain dalam pertandingan sepak bola, di mana sejumlah nama di luar kabinet mungkin sudah dipersiapkan untuk menggantikan menteri yang sedang menjabat.
Prabowo dan Ambisi Politik Menuju Pilpres 2029
Fernando tidak hanya mempertanyakan motivasi di balik reshuffle, tetapi juga mengingatkan tentang potensi dampak politiknya.
“Reshuffle dilakukan hanya untuk memberikan kesempatan lebih banyak kepada yang pro dan kontra terhadap pemerintahan bisa menikmati masuk menjadi anggota kabinet. Tujuannya agar bisa memuluskan untuk memenangkan kontestasi Pilpres 2029,” tegasnya.
Ia mengungkapkan kritik yang tajam terhadap arah politik tersebut, menyebutkan, “Sehingga semakin memperjelas bahwa Prabowo haus kekuasaan dan ingin melanggengkan kekuasaannya.”
Fernando memprediksi bahwa meskipun Prabowo berambisi, kepemimpinannya mungkin tidak akan bertahan hingga akhir masa jabatan.
“Saya perkirakan Prabowo Subianto tidak akan menuntaskan kepemimpinannya sampai akhir masa jabatannya dan Pilpres 2029 tanpa Prabowo Subianto,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut merupakan analisis pribadi Fernando Emas, dan bukan merupakan kepastian mengenai masa depan kepemimpinan Presiden Prabowo.
Dengan terus berkembangnya situasi politik ini, masyarakat akan terus mengamati langkah-langkah selanjutnya yang akan diambil oleh pemerintah dalam menghadapi tantangan Pilpres mendatang.
Sumber: gelora.co (2026-10-24)
0 Komentar