:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/wartakota/foto/bank/originals/Hashim-Djojohadikusumo-Selasa-10122024.jpg)
- Hashim Djojohadikusumo mengungkapkan rencana pemanfaatan 12,7 juta hektare hutan terdegradasi di Indonesia untuk pengembangan biodiesel.
- Rencana ini bertujuan mencapai swasembada energi tanpa membuka hutan primer yang masih utuh, dengan fokus pada lahan yang sudah rusak.
- Pengembangan biodiesel diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan memberikan manfaat ekonomi lokal, meski tantangan pengelolaan tetap ada.
Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, baru-baru ini menyampaikan rencana ambisius untuk memanfaatkan lahan seluas 12,7 juta hektare hutan terdegradasi di Indonesia.
Rencana ini diungkapkan saat acara Investor Daily Summit 2026 di Jakarta pada tanggal 7 Oktober 2026 dan bertujuan untuk mendukung pengembangan bahan bakar nabati, termasuk biodiesel jenis B50 hingga B100.
Hashim, yang juga merupakan adik dari Presiden Prabowo Subianto, menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan ini diarahkan untuk mencapai target swasembada energi tanpa harus membuka hutan primer yang masih utuh.
Dalam penjelasannya, Hashim menegaskan bahwa kawasan yang dimaksud bukanlah hutan dengan tutupan pohon seperti kondisi awal, melainkan lahan yang telah mengalami kerusakan.
"Dikatakan bahwa 12,7 juta hektare hutan rusak atau degraded forest bisa menjadi alternatif. Menurut pemerintah, saat ini terdapat 12,7 juta hektare hutan rusak atau degraded forest," kata Hashim.
Dinamika dan Fakta di Lapangan
Ia menambahkan, "Itu hutan, tapi tidak ada kayu lagi. Sudah ditebang, semak belukar dan sebagainya. Itu yang sebetulnya sumber karbon lah. Hutan-hutan rusak itu."
Kehadiran rencana ini menarik perhatian publik, terutama karena dampaknya terhadap lingkungan dan ekonomi.
Pengembangan biodiesel diharapkan tidak hanya dapat membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, tetapi juga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian lokal.
Dengan langkah ini, diharapkan Indonesia dapat lebih mandiri dalam hal energi dan berkontribusi terhadap upaya global dalam mengurangi emisi karbon.
Langkah dan Antisipasi ke Depan
Namun, tantangan besar tetap ada, terutama dalam hal pengelolaan dan pemulihan area yang telah rusak.
Seiring dengan meningkatnya perhatian terhadap isu perubahan iklim, langkah Hashim ini menjadi salah satu dari banyak inisiatif yang diharapkan dapat mengarahkan Indonesia menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.
Masyarakat kini menantikan perkembangan lebih lanjut mengenai bagaimana rencana ini akan direalisasikan dan dampaknya bagi lingkungan serta ekonomi lokal.
Sumber: wartakota.tribunnews.com (15/10/2026)
0 Komentar