Elektabilitas PSI Terancam Imbas Fenomena Tembok Ratapan Solo

Dampak Tembok Ratapan Solo Terhadap PSI

Partai Solidaritas Indonesia (PSI) diperkirakan akan merasakan dampak dari fenomena yang berkaitan dengan rumah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, di Solo, yang kini dikenal sebagai 'Tembok Ratapan Solo' di Google Maps. 

Fenomena ini muncul sebagai bentuk kritik publik terhadap Jokowi yang dianggap haus akan popularitas.

Pandangan Pengamat Tentang Fenomena Ini

Pengamat dari Citra Institute, Efriza, mengamati bahwa setelah Jokowi pensiun sebagai presiden, rumahnya menjadi tujuan kunjungan banyak masyarakat serta pejabat dari berbagai daerah, baik untuk mengadukan masalah maupun hanya untuk berfoto. 

Efriza menyatakan, "Ekspresi satire publik diyakini ke depannya bukan hanya seperti 'Tembok Ratapan Solo' saja, ekspresi ini dilakukan untuk memberikan kesan dan efek citra negatif terhadap Jokowi dan keluarganya."

Resiko bagi PSI

Menurut Efriza, Jokowi berencana aktif menggalang dukungan untuk PSI dalam pemilihan umum (Pemilu) 2029 mendatang, namun langkah tersebut justru berpotensi merugikan PSI. "Apalagi jika produksi wacana negatif Jokowi semakin banyak beredar, bukan tidak mungkin citra PSI akan ikut memburuk ke depan," ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa PSI sangat kuat diasosiasikan dengan Jokowi, terutama karena Ketua Umumnya adalah Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi.

Implikasi Terhadap Elektabilitas PSI

Efriza juga menyoroti bahwa jika lebih banyak ekspresi publik negatif terhadap Jokowi muncul, hal ini akan berdampak buruk pada popularitas PSI. "Hubungan erat antara PSI dengan Jokowi dan keluarganya akan menghadirkan keterhubungan dampak dari ekspresi kecewa dan jengahnya publik kepada Jokowi, yang otomatis akan merembes pula kepada PSI," tutupnya.


Sumber: gelora.co (2026-02-22)

0 Komentar

Produk Sponsor