Tanda-tanda Semakin Nyata, SBY Ingatkan akan Ancaman Perang Dunia Ketiga dan Dampak Perang Nuklir



Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), mengungkapkan kekhawatiran mendalam terkait arah perkembangan global dalam beberapa tahun terakhir, terutama dinamika yang semakin memanas dalam beberapa bulan belakangan ini.

Kekhawatiran tersebut muncul dari pengamatannya yang mendalam mengenai geopolitik internasional, perdamaian dunia, dan sejarah peperangan yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Adanya Kesamaan Situasi dengan Perang Dunia ke-1

SBY berpendapat bahwa situasi dunia saat ini menunjukkan banyak kesamaan dengan kondisi menjelang Perang Dunia Pertama dan Kedua.

Ia menilai bahwa tanda-tanda menuju konflik besar semakin terlihat, di antaranya adalah munculnya pemimpin-pemimpin yang agresif, pembentukan aliansi negara yang saling berseberangan, serta pembangunan kekuatan militer yang masif yang disertai dengan persiapan ekonomi untuk perang.

“Terus terang saya khawatir. Cemas dan khawatir kalau sesuatu yang buruk akan terjadi. Cemas kalau dunia mengalami prahara besar. Apalagi kalau prahara besar itu adalah Perang Dunia Ketiga," katanya melalui akun X resminya pada Senin, 19 Januari 2026.

Catatan Sejarah atas Kegagalan Mencegah Perang


Namun, SBY juga menegaskan bahwa waktu dan ruang untuk mencegah konflik besar ini semakin berkurang setiap harinya. Ia mengingatkan bahwa sejarah mencatat, meskipun tanda-tanda perang besar sudah jelas, sering kali dunia gagal bertindak untuk mencegahnya.

"Sangat mungkin Perang Dunia Ketiga terjadi. Meskipun, saya tetap percaya hal yang sangat mengerikan ini bisa dicegah. Tapi, day by day, ruang dan waktu untuk mencegahnya menjadi semakin sempit," ungkapnya.

Ingatkan Resiko Perang Nuklir

SBY juga menyoroti risiko perang nuklir yang dapat membawa kehancuran total bagi umat manusia. Ia menyebutkan berbagai studi yang memprediksi bahwa jumlah korban jiwa dapat mencapai lebih dari lima miliar orang jika terjadi perang dunia yang melibatkan senjata nuklir.

“Tidak ada peradaban yang tersisa dan musnahnya harapan manusia,” tegasnya.

Meskipun menaruh harapan pada doa, SBY menekankan bahwa doa saja tidak cukup tanpa upaya konkret dari umat manusia dan negara-negara di seluruh dunia.

Ia berpendapat bahwa bahkan doa miliaran manusia tidak akan memiliki arti jika tidak diiringi dengan tindakan nyata.



Sumber: gelora.co (2026-01-19)

0 Komentar

Produk Sponsor