Pelaporan Mens Rea ke Polisi Justru Memperkuat Suara Rakyat, Peneliti Temukan Fenomena Efek Streisand


Di awal tahun 2026, wacana mengenai kebebasan berekspresi kembali menjadi sorotan publik. Pelaporan terhadap pertunjukan stand-up bernama "Mens Rea" pada 8 Januari 2026, yang dilakukan oleh beberapa pihak, memicu reaksi luas di masyarakat, menimbulkan pertanyaan: apakah upaya ini justru akan memperkuat suara yang nampak ingin dibungkam?

Data dari Google Trends menunjukkan lonjakan signifikan dalam pencarian terkait "Mens Rea" setelah pelaporan tersebut, menciptakan fenomena baru dalam dunia komunikasi publik.


Lonjakan Pencarian dan Pergeseran dari Seni ke Hukum

Ismail Fahmi, seorang peneliti dan founder drone emprit, menyoroti dampak dari pelaporan ini. 

Dalam unggahannya di platform X Fahmi menyebut istilah Efek Streisand untuk menjelaskan fenomena yang terjadi.

Ia mencatat bahwa sebelum pelaporan, pencarian "Mens Rea" berada di kisaran rendah hingga menengah, namun setelahnya, lonjakan signifikan terjadi, dengan angka mencapai 57 poin. "Artinya, narasi hukum mengalahkan narasi seni, dan publik terdorong mencari tahu: 'Sebenarnya apa isi Mens Rea sampai dilaporkan?'" ujarnya.

Sejak saat itu, publik mulai mengalihkan perhatian dari aspek komedi pertunjukan tersebut kepada makna lebih dalam yang terkandung di dalamnya.

Pelaporan ini secara efektif telah mengubah framing publik. Sebelumnya, "Mens Rea" dipandang sebagai sebuah pertunjukan komedi yang menyajikan kritik sosial dengan gaya satir. 

Namun, setelah pelaporan, pertunjukan ini bertransformasi menjadi simbol kebebasan berekspresi dan kritik terhadap kekuasaan.


Apa itu Efek Streisand? 

Efek Streisand adalah fenomena paradoks di mana upaya untuk menyembunyikan, menghapus, atau menyensor suatu informasi justru malah membuat informasi tersebut menjadi jauh lebih dikenal, tersebar luas, dan menarik perhatian lebih banyak orang, sering kali karena rasa ingin tahu publik yang terpicu oleh tindakan penyensoran itu sendiri.

Istilah ini dinamai dari penyanyi Barbra Streisand yang pada tahun 2003 berusaha menghapus foto rumahnya dari internet, yang justru menyebabkan foto tersebut menjadi viral dan dilihat jutaan orang.


Kontroversi Pelapor dan Terbentuknya Simpati Publik

Pada saat yang sama, pelaporan tersebut menciptakan relasi asimetris antara pelaku seni dan aparat hukum serta ormas besar seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah. 

Di satu sisi, seorang komedian menghadapi tekanan dari kekuatan yang lebih besar. Ismail menambahkan, "Secara psikologis, publik digital cenderung simpati pada pihak yang tampak lebih lemah, apalagi jika isu menyentuh kebebasan berpendapat."

Ketika Anwar Abbas dari PP Muhammadiyah mengeluarkan pernyataan tidak mengakui pelaporan dan menyerukan agar kritik seharusnya didengar, bukan dipidanakan, hal ini menciptakan delegitimasi moral terhadap pelapor. "Pelaporan kehilangan otoritas simbolik, dan Mens Rea justru mendapat validasi moral," tambahnya. 

Dalam konteks ini, pelaporan yang dimaksudkan untuk meredam justru melejitkan popularitas "Mens Rea" di kalangan publik.


Algoritma Media Sosial Menjadi Amplifikasi

Ismail juga menyoroti bahwa kontroversi hukum memiliki daya sebar algoritmik yang jauh lebih kuat dibandingkan konten seni biasa. 

Media online, talkshow, podcast, dan platform media sosial seperti X (Twitter) serta Instagram berperan besar dalam memperluas jangkauan diskusi mengenai "Mens Rea". Komentar yang beragam, baik pro maupun kontra, memicu tingkat keterlibatan yang tinggi, sehingga algoritma media sosial menganggapnya sebagai "konten bernilai tinggi untuk disebarkan".

Akibatnya, nama "Mens Rea" muncul di berbagai platform, bahkan menarik minat orang-orang yang sebelumnya tidak pernah menonton stand-up tersebut. 

Hal ini menjelaskan mengapa tren pencarian tidak menunjukkan penurunan, melainkan justru meningkat setelah pelaporan. "Dampak ini menunjukkan bahwa kontroversi dapat menjadi alat distribusi yang kuat bagi karya budaya," ungkap Ismail.


Dampak Jangka Pendek dan Panjang

Dari dampak jangka pendek, pamor "Mens Rea" meningkat, mengubahnya menjadi referensi nasional dalam ranah kritik sosial. 

Karya ini tidak lagi dipersepsikan sekadar sebagai pertunjukan, tetapi sebagai sebuah "kasus" yang menciptakan audiens baru yang tertarik bukan hanya pada komedi, melainkan juga isu yang diangkat.

Dalam jangka menengah hingga panjang, "Mens Rea" dan penciptanya akan terus dirujuk dalam diskursus kebebasan berekspresi.

Karya ini berpotensi menjadi tonggak sejarah dalam budaya pop-politik, di mana kritik berikutnya akan dibaca dengan bobot yang lebih besar.

Di sisi lain, bagi pelapor, klaim yang menyatakan "mewakili NU/Muhammadiyah" tanpa otorisasi resmi akan semakin menambah keraguan publik. 

Pernyataan elite seperti Anwar Abbas memperkuat kesan bahwa ormas besar tidaklah monolitik dan tidak anti-kritik. 

Sementara itu, bagi negara dan aparat, kasus ini dapat menjadi rujukan untuk menilai setiap kali seni bersinggungan dengan pasal pidana, di mana ada potensi tekanan publik agar hukum tidak dijadikan alat sensor.


Pelaporan Mens Rea adalah Kesalahan Strategi

Pelaporan "Mens Rea" menjadi contoh klasik dari kesalahan strategi komunikasi. Niat untuk menghentikan pengaruh justru berujung pada pembesaran pengaruh Pandji terhadap masyarakat Indonesia.

Pelaporan ini tak hanya dianggap upaya meredam kritik; melainkan juga mengangkat "Mens Rea" ke level wacana nasional, memberikan panggung yang jauh lebih besar, dan mengubahnya dari sekadar pertunjukan menjadi simbol kebebasan berekspresi.

Dalam ekosistem digital saat ini, kriminalisasi kritik sering kali bukanlah akhir cerita; melainkan awal dari amplifikasi yang lebih besar. Dengan demikian, "Mens Rea" kini menjadi bagian penting dari narasi kebebasan berpendapat di Indonesia.

Sumber: Ismail Fahmi, @ismailfahmi di X (Twitter), 10 Januari 2026.

0 Komentar

Produk Sponsor