Jelang Muktamar NU 2026, Said Aqil Dinilai Siap Duduki Kursi Rais Aam PBNU

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama

Pada 25 Januari 2026, diskusi mengenai sosok yang ideal untuk menjabat Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali mencuat menjelang Muktamar ke-35 NU. Jabatan Rais Aam tidak hanya dipandang sebagai posisi struktural, melainkan juga sebagai simbol marwah dan otoritas tertinggi dalam kepengurusan Syuriyah, yang berperan penting dalam menentukan arah strategis organisasi di tengah berbagai dinamika nasional dan global.

Kriteria Pemilihan Rais Aam

Pemilihan Rais Aam seharusnya berlandaskan pada kriteria yang jelas, sesuai dengan yang diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU, melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa). Hal ini ditekankan untuk memastikan bahwa pemilihan tersebut tidak hanya didasarkan pada popularitas semata.

“Dalam struktur NU, Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah simbol marwah, pemimpin spiritual, dan pengambil kebijakan strategis jam’iyah. Karena itu, yang paling penting bukan siapa orangnya, tetapi apakah ia memenuhi kriteria,” tegas KH Imam Jazuli, Pengasuh Ponpes Bina Insan Mulia Cirebon, dalam penjelasannya pada Minggu, 25 Januari 2026.

Pilar Utama yang Harus Dimiliki

KH Imam Jazuli memaparkan bahwa terdapat empat pilar utama yang harus dimiliki oleh Rais Aam PBNU, yaitu alim, faqih, zahid, serta berwibawa dan berpengalaman dalam organisasi. Pilar-pilar ini diperkuat dengan nilai muru’ah, futuwwah, dan muharrikan atau penggerak.

Dengan mempertimbangkan kriteria tersebut, ia menilai Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj sebagai sosok yang paling memenuhi syarat untuk memimpin Syuriyah NU pada periode mendatang. “Jika kriteria itu diterapkan secara objektif, maka KH Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan paripurna,” ungkap KH Imam Jazuli.

Keilmuan dan Pengalaman KH Said Aqil Siradj

Dari segi keilmuan, KH Said Aqil diakui sebagai ulama alim dan faqih dengan latar belakang pendidikan yang kuat di Universitas Ummul Qura, Mekkah, serta memiliki penguasaan yang mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik dan pemikiran kontemporer.

Dalam aspek spiritualitas, KH Said Aqil dinilai memiliki karakter zahid, yang tidak terikat pada ambisi duniawi meskipun ia memiliki kapasitas dan akses kekuasaan yang besar. Pengalamannya sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode, dari 2010 hingga 2021, juga dianggap sebagai modal penting. Ia dihargai karena pemahamannya yang utuh tentang NU, baik dari sisi struktural maupun fungsional.




Sumber: gelora.co (2026-01-25)

0 Komentar

Produk Sponsor