Baru-baru ini pengguna platform X (Twitter) geger dengan ditemukannua cuitan Prabowo Subianto yang mengakui pernah "mengamankan" beberapa orang.
Dari cuitan lawas tersebut, nampak akun dengan username @prabowo membalas cuitan dari @partaisocmed. Dari pernyataannya, Prabowo juga mention akun @pandji.
Prabowo menuliskan, "Apa yang saudara @pandji sampaikan ada benarnya - saya pernah mengamankan beberapa orang namun semua saya lepaskan." Pernyataan ini memicu berbagai reaksi di kalangan netizen.
Kehebohan terjadi setelah potongan video aksi panggung Pandji di Mens Rea yang menyebut Prabowo sebagai penculik aktivis viral di media sosial.
Konteks Pernyataan Prabowo
Pernyataan ini diduga muncul dari konteks yang cukup sensitif, mengingat masa lalu Prabowo sebagai seorang jenderal di era Orde Baru.
Adanya aksi penangkapan aktivis pada tahun 1998, dimana Prabowo dituduh terlibat.
Dalam cuitannya yang diunggah pada 14 Januari 2014 silam tersebut, Prabowo mengakui terlibat dalam penangkapan beberapa orang tersebut. Dan kini netizen mengaitkan yang dimaksud "orang" dalam cuitan Prabowo itu diduga adalah para aktivis 98.
Reaksi Publik dan Dampak Media Sosial
Jejak digital Prabowo muncul, banyak netizen mengaitkan kembali pernyataan Prabowo beberapa tahun silam dengan aksi Pandji yang baru-baru ini tayang di Netflix.
Dalam acara Mens Rea, Pandji menyoroti tuduhan terhadap Prabowo sebagai penculik aktivis.
Video aksi Pandji tersebut menyebar dengan cepat, dan ia pun dikabarkan mendapatkan serangan dari buzzer yang membela pemerintah, dimana Prabowo kini menjabat sebagai Presiden.
Hal ini menunjukkan betapa media sosial bisa menjadi arena pertarungan opini yang intens di tengah dinamika politik saat ini.
Jejak Digital dan Kekuatan Pemberitaan
Jejak digital Prabowo yang diduga berkaitan dengan penangkapan aktivis pada tahun 1998 itu menjadi alasan yang memperkuat netizen untuk mendukung apa yang Pandji katakan.
Pernyataan ini tidak hanya mengungkap kembali masa lalu Prabowo, namun juga menunjukkan bagaimana informasi dapat berpindah tangan dan digunakan dalam diskusi politik saat ini.
Sepertinya, kekuatan media sosial semakin nyata dalam membentuk narasi dan mempengaruhi opini publik.
Dari hal ini kita pun semakin sadar bahwasanya isu-isu masa lalu tidak akan pernah sepenuhnya hilang, dan selalu ada ruang untuk kembali jadi perbincangan serta penilaian oleh netizen.
Sumber: Akun Twitter Prabowo, @prabowo (14 Januari 2014), diakses pada tanggal Selasa, 6 Januari 2026.
0 Komentar