Jejak Buruk Jokowi yang Menghantui Usai Lengser dan Tantangan yang Masih Membayangi Indonesia

Setelah lengser dari jabatannya, seorang mantan presiden Indonesia nampaknya masih terus berjuang di tengah sorotan publik yang tajam. Berbagai isu berlanjut, menyoroti langkah-langkah yang diambil mantan Presiden tersebut dalam upayanya untuk tetap berpengaruh di pentas politik Nasional. Dalam konteks ini, sejumlah pihak menilai bahwa jejaknya di panggung politik tidak semanis yang dibayangkan.


Warisan Masalah Jokowi yang Dipertanyakan

Dalam pandangan banyak pengamat, Joko Widodo, yang akrab disapa Jokowi, menjadi satu-satunya mantan presiden yang meninggalkan banyak jejak masalah setelah masa kepemimpinannya berakhir. 

Mengutip pemberitaan dari gelora.co (2026-01-12), pemerhati sosial politik Adian Radiatus mengungkapkan, "Bahkan Jokowi meninggalkan jejak buruk dipecat dengan tidak hormat oleh PDIP yang sudah membesarkannya."

Menyusul perpecahan ini, Jokowi terlihat berusaha keras untuk tetap aktif di kancah politik nasional, salah satunya mengondisikan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjelang Pemilu 2029.

Ia bahkan melakukan perubahan logo PSI dengan simbol gajah, yang diibaratkan oleh Adian sebagai langkah yang penuh risiko. "Tak mengapa juga bercita-cita besar, tapi konon gajah pernah mati ketika semut merah masuk kedalam telinganya," tambahnya.


Polemik Ijazah yang Terus Menghantui

Namun, isu yang semakin memperburuk citra dirinya adalah polemik mengenai keaslian ijazahnya dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM). Dalam konteks ini, Adian Radiatus kembali berbicara, "Ijazah Jokowi dapat memperburuk citra negara ini. Karena rakyat menggugat keabsahan ijazah mantan presidennya."

Ini menandai tantangan baru bagi Jokowi, di mana setiap langkah dan keputusan yang diambilnya kini semakin banyak dipertanyakan oleh publik. Dengan situasi yang ada, kejelasan dan transparansi menjadi hal yang sangat krusial.


Refleksi dan Harapan Publik

Saat kita menyaksikan perjalanan politik seorang mantan presiden, muncul pertanyaan mendalam mengenai apakah langkah-langkah yang diambil benar-benar mencerminkan kepentingan publik. Apakah upaya untuk tetap berkuasa dan berpengaruh ini pada akhirnya akan menguntungkan masyarakat, atau justru sebaliknya?

Apakah kita akan terus menyaksikan pertarungan politik yang lebih mengedepankan kepentingan pribadi dibandingkan aspirasi rakyat?


Sumber: gelora.co (2026-01-12) 

0 Komentar

Produk Sponsor