Heboh Pernyataan dr. Tompi di Media Sosial, dr. Tifa Beri Penjelasan ke Publik Apa Itu PTOSIS yang Sebenarnya


Isu fisik para pemimpin atau tokoh publik sering kali menjadi menarik untuk diperbincangkan, terutama dalam konteks politik yang dinamis di tanah air. Belakangan ini, perhatian tertuju pada aksi Komedi Pandji dalam suatu acara berjudul Mens Rea

Dalam komedinya, Panji menyebut Gibran yang tampak mengantuk saat menjalankan tugasnya. Situasi ini memunculkan berbagai interpretasi, termasuk perbedaan antara ngantuk dan ptosis, yang diungkapkan oleh dokter Tompi di platform sosial media.

Dokter Tompi menyebut bahwa apa yang terlihat pada mata Gibran itu bukan ngantuk seperti yang disampaikan Pandji, melainkan PTOSIS. Sontak istilah ini menjadi suatu hal yang menarik untuk diketahui oleh netizen.


Dokter Tifa Jelaskan Perbedaan antara Ngantuk dan Ptosis 

Dalam dunia medis, pemahaman yang tepat mengenai gejala adalah hal yang krusial. Dokter Tifa, melalui unggahan di X (Twitter), menjelaskan bahwa terdapat perbedaan mendasar antara ngantuk dan ptosis. 

Ia menyebutkan bahwa ngantuk bersifat episodik, artinya datang dan pergi, serta hilang setelah tidur. Sementara itu, ptosis adalah kondisi yang persisten, menetap, dan tidak banyak berubah meskipun konteksnya berganti.

“Ngantuk itu episodik. Artinya: datang dan pergi, hilang setelah tidur, wajah berubah setelah stimulasi, dan tidak konsisten di semua situasi. Ptosis itu persisten. Artinya: menetap, konsisten lintas waktu,” tegasnya, menambahkan bahwa apa yang terlihat pada tokoh politik tersebut menunjukkan pola yang lebih dari sekadar kurang tidur.


Implikasi dari Kondisi Psikoneurologis

Dokter Tifa melanjutkan penjelasannya dengan menekankan pentingnya memahami kondisi yang dialami. “Ini bukan fenomena satu malam kurang tidur. Ini adalah pola. Dan dalam Ilmu Neuroscience, pola tidak boleh diabaikan,” ujarnya. 

Dokter Tifa menggarisbawahi bahwa seseorang dengan blefaroptosis, saran darinya adalah untuk segera diobati, mengingat ptosis berhubungan dengan kerusakan psikoneurologis yang mempengaruhi jiwa dan saraf.

“Jadi, yang seharusnya dilakukan negara adalah: obati kerusakan itu, jangan malah buru-buru dikasih jabatan,” tambahnya, menyoroti perlunya perhatian serius terhadap kondisi kesehatan mental para pemimpin.


Saran Tifa untuk Gibran

Di akhir pernyataannya, Dokter Tifa memberikan saran yang lebih spesifik, “Saran saya bukan diobati dulu. Saran saya, dia ini ikut Kejar Paket C. Agar punya ijazah SMA.” pungkasnya. Saran ini muncul di tengah keraguan publik tentang pendidikan Gibran yang menjadi perbincangan di media sosial.


Sumber: Dokter Tifa via X (Twitter), Jumat, 9 Januari 2026

0 Komentar

Produk Sponsor