Hasil Analisis 709 Dokumen Ijazah Jokowi, Dokter Tifa Sebut Dua Foto Jokowi Adalah Dua Orang Berbeda

Dokter Tifa, seorang ahli epidemiologi perilaku dan neuroscience, mengungkapkan analisis menarik terkait 709 dokumen pendukung ijazah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Dalam unggahannya di platform X (Twitter), ia menjelaskan bahwa ia telah melakukan metasintesis multilinier menggunakan metode matematika untuk membandingkan dua kelompok foto Jokowi yang dikenal sebagai JKW 1 dan JKW 2.


Analisis Metode Bayesian

Menurut dokter Tifa, ia menggunakan Analisis Probabilistik Bayesian dengan variabel identifikasi anatomi morfologi untuk menentukan kesamaan antara kedua foto tersebut. “Matematika sebagai Alatnya Allah SWT yang objektif dan bebas bias kita gunakan untuk membuktikan kesamaan atau perbedaan,” tulisnya. Ia menjelaskan bahwa sebagai epidemiolog, memahami angka-angka adalah bagian dari kompetensinya.


Detail Variabel yang Dihitung

Dalam analisisnya, dokter Tifa menguraikan lima variabel utama yang menjadi fokus perhitungannya, yaitu:

  1. Bentuk cranium atau kepala
  2. Proporsi wajah atas, tengah, dan bawah
  3. Struktur rahang dan dagu
  4. Morfologi hidung
  5. Pola rambut dan density hairline

Setiap variabel diubah menjadi angka dan dimasukkan ke dalam rumus matematika Bayesian. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa ada perbedaan signifikan antara JKW 1 dan JKW 2 dengan probabilitas kesamaan hanya sebesar 0,29% dan probabilitas perbedaan mencapai 99,71%.


Kesimpulan Dokter Tifa

Dokter Tifa menyimpulkan bahwa foto-foto yang memperlihatkan Jokowi dengan penampilan berbeda adalah dua orang yang berbeda. “Bahasa sederhananya, foto-foto Jokowi versi rambut tebal dan hidung mancung adalah DUA ORANG YANG BERBEDA,” ungkapnya.

Pernyataan ini menciptakan ruang diskusi di kalangan publik dan mengundang berbagai reaksi, terutama dalam konteks politik dan pemerintahan.


Menyoroti Signifikansi Pernyataan Dokter Tifa

Pernyataan dokter Tifa menyoroti pentingnya metode ilmiah dalam membahas isu-isu publik, khususnya terkait identitas figur publik seperti presiden. Dengan mengandalkan analisis matematis dan statistik, ia mengajak masyarakat untuk lebih kritis dan objektif dalam menilai informasi yang beredar.

Dokter Tifa mengakhiri penjelasannya dengan mengutip QS Al Qamar: 49, yang menegaskan bahwa segala sesuatu diciptakan dengan bilangan, menunjukkan bahwa pendekatan ilmiah dapat memberikan pencerahan dalam isu-isu kontroversial.

Sumber: Akun X (Twitter) dokter Tifa, tanggal Senin, 5 Januari 2026.

0 Komentar

Produk Sponsor