Golkar Dinilai Paling Sering Membelot, Koalisi Permanen Hanya Sekadar Jargon Tanpa Makna Nyata

Dalam konteks politik Indonesia, Partai Golkar sedang berada dalam sorotan terkait rencana pembentukan koalisi permanen.

Rencana ini dianggap sebagai langkah yang menimbulkan keraguan karena sejarah menunjukkan bahwa partai tersebut cenderung tidak konsisten dalam berkomitmen terhadap koalisi yang ada. 

Sejumlah pengamat politik menilai bahwa aspirasi tersebut lebih merupakan ungkapan retoris dibandingkan dengan upaya serius untuk membangun aliansi yang stabil.
 

Sejarah Inkonsistensi Golkar

Sejak masa kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Golkar sering kali dilihat sebagai partai yang tidak setia pada komitmen kolektif.

Efriza, seorang pengamat politik dari Citra Institute, menekankan bahwa perilaku Golkar menunjukkan pola pengkhianatan terhadap koalisi yang telah dibentuk, yang mengakibatkan koalisi menjadi lemah dan tidak efektif.

Dia berargumentasi bahwa situasi ini bukanlah hal baru dalam sejarah politik Indonesia, melainkan fenomena yang berulang.
 

Koalisi Permanen: Antara Harapan dan Realitas

Gagasan tentang koalisi permanen sepertinya masih jauh dari kenyataan. Tanpa adanya dasar yang kuat dan komitmen menyeluruh antar partai dalam jangka waktu yang panjang, ide ini dipandang hanya sebagai angan-angan.

Efriza menyoroti bahwa untuk mewujudkan koalisi yang solid, diperlukan platform bersama yang jelas dan kesepakatan lintas kepemimpinan yang kokoh, yang tampaknya saat ini belum dapat dicapai.
 

Menghadapi Tantangan Politik

Dalam pandangan Efriza, wacana tentang koalisi permanen justru menjadi refleksi dari strategi politik yang kurang realistis. Sebagai contoh, banyaknya partai yang telah mengalami perpecahan dan perubahan aliansi dalam sejarah politik reformasi menunjukkan bahwa merencanakan kolaborasi jangka panjang dalam iklim politik yang dinamis saat ini merupakan tantangan tersendiri. Keberhasilan untuk bersatu dalam koalisi permanen, dalam pandangannya, sangat dipertanyakan.

Masa Depan Koalisi Politik

Secara keseluruhan, situasi politik yang melibatkan Partai Golkar dan pembentukan koalisi permanen harus dipandang dengan skeptisisme. Anggapan bahwa koalisi tersebut akan terwujud dalam waktu dekat tampaknya lebih bersifat aspiratif ketimbang realistis.

Hal ini mengindikasikan adanya ketidakpastian di dalam struktur politik yang ada saat ini, dan tantangan ke depan akan sangat bergantung pada kemauan untuk mengubah pendekatan dan membangun kepercayaan di antara partai-partai yang terlibat.

Sumber: www.gelora.co (2026-01-04)

0 Komentar

Produk Sponsor