Defisit APBN Melonjak, Purbaya Hadapi Kondisi Ekonomi Berantakan dan Dilema yang Rumit

Dalam konteks perekonomian yang penuh tantangan, Indonesia menghadapi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk tahun 2025.

Situasi ini menandakan semakin dalamnya tekanan terhadap ekonomi nasional yang berusaha mempertahankan pertumbuhan di tengah ketidakpastian global. Di tengah perdebatan ini, langkah-langkah strategis pemerintah menjadi sorotan utama.


Catatan Defisit APBN 2025

Defisit APBN 2025 tercatat mencapai Rp695,1 triliun, yang setara dengan 2,92 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan defisit tahun lalu yang sebesar Rp509,1 triliun, atau 2,3 persen terhadap PDB.

Peningkatan ini tidak hanya melebihi target awal 2,53 persen, tetapi juga mendekati ambang batas aman yang ditetapkan, yakni 3 persen.

Menanggapi kondisi ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa kebijakan tersebut diambil sebagai bagian dari strategi fiskal countercyclical untuk menahan laju perlambatan ekonomi. “Defisitnya naik ke 2,92% dari rencana awal hanya 2,53%, ini dengan misi untuk menjaga ekonomi tetap bisa berekspansi di tengah tekanan global yang tinggi,” ujar Purbaya dalam sebuah konferensi pers.


Kebijakan Fiskal dan Resiko Ekonomi

Purbaya menegaskan bahwa pemerintah memiliki kapasitas untuk menekan defisit hingga nol persen.

Namun, pilihan tersebut dianggap terlalu berisiko bagi perekonomian nasional. “Sebetulnya kalau mau saya buat nol defisit juga bisa, saya potong anggarannya, tapi ekonomi morat-marit,” tambahnya.

Dalam pandangan Purbaya, kebijakan ini adalah langkah untuk menghindari dampak negatif yang lebih besar terhadap stabilitas ekonomi.

Ia menegaskan bahwa memotong anggaran secara drastis hanya akan memperburuk keadaan, terutama di saat ketidakpastian ekonomi global semakin meningkat.


Dampak Defisit Terhadap Masyarakat dan Ekonomi

Pelebaran defisit ini tentunya memunculkan berbagai spekulasi dan harapan di kalangan masyarakat. 

Masyarakat berharap agar langkah-langkah yang diambil dapat memitigasi dampak dari kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

Namun, banyak juga yang skeptis apakah pemerintah benar-benar mampu menciptakan keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pengendalian defisit.

Apakah kebijakan ini akan cukup efektif untuk menstabilkan ekonomi nasional? Atau justru akan mengarah pada kebijakan yang lebih ketat di masa depan? 

Pertanyaan-pertanyaan ini menggugah keinginan publik untuk memahami lebih dalam mengenai strategi yang diambil oleh pemerintah di tengah badai ekonomi ini.  


Sumber: gelora.co (2026-01-08)

0 Komentar

Produk Sponsor