
Politik Koalisi: Mitos atau Realitas?
Usulan untuk membentuk koalisi permanen menjadi tema hangat, tetapi di balik itu, banyak yang mempertanyakan apakah langkah tersebut benar-benar menjadi jawaban untuk isu-isu politik yang ada. Pengamat politik dari Citra Institute, Efriza, menganggap bahwa niat Bahlil lebih bersifat retoris dan cenderung menguntungkan Partai Golkar tanpa memberikan jaminan bahwa hal itu akan mengubah posisi partai lain. Ini menunjukkan bahwa dalam konteks politik, wacana sering kali lebih kuat daripada implementasi nyata.Dampak Terhadap Dinamika Partai Politik
Efriza juga menerangkan bahwa meskipun koalisi permanen diusulkan, tidak mudah bagi Golkar untuk memengaruhi keputusan dari partai-partai besar lain. Tindakan ini, dalam pandangannya, lebih ditujukan untuk memperkuat citra Golkar sebagai pemain utama dalam politik ketimbang menciptakan kolaborasi yang konstruktif. Partai-partai lain mungkin akan merespons dengan skeptisisme, melihat hal ini sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari isu-isu yang lebih mendesak.Peran Partai Kecil dalam Koalisi
Lebih lanjut, Efriza mencatat bahwa di dunia politik, hanya beberapa partai besar yang memiliki pengaruh signifikan, termasuk Golkar. Partai-partai kecil akan tetap terpinggirkan dalam diskusi tentang koalisi permanen, yang bisa berujung pada marginalisasi suara mereka. Ketegangan ini menjadikan pertanyaan tentang masa depan koalisi di Indonesia semakin kompleks.Kesimpulan: Jalan Menuju Koalisi yang Nyata
Melihat kondisi ini, banyak yang skeptis tentang kemungkinan terwujudnya koalisi permanen sebagai langkah yang dapat memberikan stabilitas dalam politik nasional. Tanpa adanya komitmen nyata dari partai-partai yang terlibat, wacana ini mungkin hanya akan menjadi bagian dari diskursus politik tanpa dampak nyata. Golkar dan Bahlil harus mempertimbangkan apakah pendekatan ini bisa berujung pada perubahan yang diharapkan atau justru menjadi angan-angan politik semata.Sumber: www.gelora.co (2026-01-05)
0 Komentar