
- Jimly Asshiddiqie memuji Luiz Inácio Lula da Silva yang terpilih kembali sebagai Presiden Brasil meskipun hanya lulusan sekolah dasar.
- Muhammad Said Didu menilai pujian Jimly menunjukkan ketidakpahaman tentang perbedaan syarat pendidikan calon presiden di Indonesia dan Brasil.
- Said Didu juga mengkritik Jimly yang dianggap membela dinasti politik Jokowi, menyarankan agar Jimly memimpin tim sukses untuk cucu Jokowi, Jan Ethes.
Pernyataan mantan Ketua Mahkamah Konstitusi, Jimly Asshiddiqie, mengenai terpilihnya kembali Luiz Inácio Lula da Silva sebagai Presiden Brasil, telah menarik perhatian publik. Hal ini diungkapkan dalam sebuah pujian yang mengedepankan latar belakang pendidikan Lula yang hanya menyelesaikan sekolah dasar.
Menurut pengamat kebijakan publik, Muhammad Said Didu, pujian tersebut mencerminkan ketidakpahaman Jimly mengenai perbedaan aturan di Indonesia dan Brasil terkait syarat pendidikan untuk calon presiden. Keterangan ini diambil dari berita yang diangkat oleh gelora.co.
Said Didu Menyoroti Kontradiksi Pujian Jimly Terhadap Lula
Dalam tanggapannya, Said Didu mengingatkan bahwa sebagai ahli hukum, Jimly seharusnya menyadari perbedaan ketentuan hukum di kedua negara. Dia menegaskan bahwa di Indonesia, syarat pendidikan untuk calon presiden dan wakil presiden lebih ketat dibandingkan Brasil.
Ia menulis melalui akun X pribadinya, "Pak @JimlyAs sebagai ahli hukum. Undang-Undang mereka mungkin memang mengizinkan, sementara UU kita mengharuskan persyaratan ijazah." Pujian Jimly terhadap Lula dinilai Didu sebagai upaya untuk membela dinasti politik Jokowi, yang saat ini tengah menjadi sorotan.
Kritik Pedas Terhadap Jimly Terkait Dinasti Politik Jokowi
Said Didu juga menambahkan kritik terhadap Jimly dengan menyinggung semangatnya dalam membela dinasti politik Jokowi. Dia menyarankan agar Jimly memimpin tim sukses untuk cucu Jokowi, Jan Ethes, agar lebih seru dalam polemik ini.
Dalam konteks ini, Jimly sebelumnya mengapresiasi Lula yang terpilih kembali meskipun hanya menempuh pendidikan dasar. Dia mengatakan, "Hebat, Presiden Brazil Lula da Silva kembali terpilih jadi Presiden ke-4 kalinya. Padahal cuma tamat SD & kursus keterampilan."
Selain itu, Jimly mengacu kepada ketentuan dalam Konstitusi Brasil yang menyatakan bahwa semua kandidat pemilu harus terdaftar sebagai pemilih dan tidak buta huruf, yang menjadi dasar argumentasinya.
Seiring dengan perkembangan ini, masyarakat kini menunggu respons lebih lanjut dari Gibran Rakabuming Raka terkait desakan untuk mengundurkan diri setelah putusan Mahkamah Konstitusi yang menunjukkan kurangnya bukti pendidikan formalnya.
Sumber: gelora.co (2026-10-27)
0 Komentar