
- Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra mengklaim bahwa ijazah Presiden Jokowi palsu dan yakin 100% akan hal tersebut.
- Dia juga menyebut bahwa Jokowi mengetahui dugaan keaslian ijazahnya dan mengaitkan posisi Bahlil Lahadalia di Partai Golkar dengan pengaruh Jokowi.
- Sri Radjasa Chandra menyoroti kasus Jiwasraya dan Asabri, mempertanyakan mengapa nama-nama besar dalam kasus tersebut tidak tersentuh hukum.
Mantan anggota Badan Intelijen Negara (BIN), Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, baru saja membuat pernyataan yang cukup mengguncang terkait keaslian ijazah Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Pernyataan Kontroversial tentang Ijazah Jokowi
Menyimak pemberitaan dari gelora.co pada 2026-09-10, Sri Radjasa Chandra mengungkapkan keyakinannya bahwa ijazah Jokowi itu palsu, bahkan ia menyatakan tingkat keyakinannya mencapai 100 persen.
“Palsu. Palsu. Yakin, saya yakin,” jawab Sri Radjasa Chandra ketika ditanya oleh Refly Harun dalam perbincangan di channel YouTube-nya pada 9 September 2026.
Beliau juga menegaskan bahwa Presiden Jokowi mengetahui tentang dugaan keaslian ijazah tersebut.
“Presiden tahu,” katanya saat ditanya apakah Presiden mengetahui bahwa ijazah Jokowi disebut palsu.
Kaitannya dengan Politik dan Partai Golkar
Sri Radjasa Chandra tidak hanya berhenti di situ, ia juga membahas dinamika Partai Golkar dan mengaitkan posisi Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Umum Golkar dengan pengaruh Jokowi.
Menurutnya, keberhasilan Jokowi dalam mempertahankan pengaruh politiknya terlihat dari penempatan Bahlil di pucuk pimpinan Partai Golkar.
“Berhasil dengan menempatkan Bahlil,” ujarnya.
Ketika ditanya apakah Ketua Umum Golkar tersebut hanya menjadi perpanjangan tangan Jokowi, Sri Radjasa Chandra menjawab tegas, “Jelas.”
Kasus Jiwasraya dan Asabri
Selanjutnya, Sri Radjasa Chandra menghubungkan pembicaraannya dengan kasus PT Asuransi Jiwasraya dan PT Asabri, yang menurutnya melibatkan nama-nama besar yang belum tersentuh hukum.
“Di Jiwasraya ada Bakrie diduga menguapkan empat triliun. Di Asabri ada Airlangga,” ujarnya.
Ia mempertanyakan mengapa pihak-pihak tersebut tidak tersentuh hukum dalam proses kasus Jiwasraya dan Asabri.
Sri Radjasa Chandra juga membawa nama mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejaksaan Agung, Febrie Adriansyah, dalam narasi yang disampaikannya.
Ia menilai ada kelompok kepentingan yang mendapatkan dukungan dari lingkaran kekuasaan yang berbeda.
“Satu geng itu dibackup istana baru, satu geng dibackup istana lama,” katanya.
Lebih jauh, Sri Radjasa Chandra menilai bahwa Febrie Adriansyah memiliki loyalitas yang kuat kepada Jokowi dan menggunakan istilah “algojo” untuk menggambarkan peran yang dijalankan Febrie dalam penanganan sejumlah perkara.
Kesimpulannya, pernyataan Sri Radjasa Chandra memicu banyak pertanyaan dan diskusi terkait politik dan keaslian ijazah Jokowi.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: gelora.co (2026-09-10)
0 Komentar