Pengamat Sebut Prabowo Dinilai Berpotensi Menghadapi Nasib Seperti Soeharto

📌 Ringkasan Berita:
  • Gigin Praginanto memperingatkan Presiden Prabowo Subianto untuk lebih hati-hati dalam bersikap, mengaitkan dengan peristiwa Reformasi 1998.
  • Menurut Gigin, jika Prabowo terus menunjukkan sikap sembarangan, ia berisiko mengalami nasib politik serupa dengan Soeharto yang terpaksa mundur.
  • Kritik Gigin menekankan pentingnya pemimpin untuk sensitif terhadap suara publik demi menjaga kepercayaan masyarakat dalam sistem demokrasi.

Pengamat kebijakan publik, Gigin Praginanto, memberikan peringatan tentang sikap yang ditunjukkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Peringatan dari Gigin Praginanto

Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-08-30, Gigin mengaitkan sikap Prabowo dengan peristiwa Reformasi 1998 saat People’s Power berhasil memaksa Presiden Soeharto untuk mundur.

Menurut Gigin, sejarah 1998 seharusnya menjadi pelajaran penting bagi siapa pun yang memegang kekuasaan.

Gigin menekankan bahwa kekuatan rakyat bisa jadi faktor penentu ketika kepercayaan publik terhadap pemimpin menurun.

“Pada 1998, People’s Power berhasil memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri meski didukung penuh oleh tentara dan polisi,” kata Gigin Praginanto dalam pernyataannya, Ahad (30/8/2026).

Risiko bagi Prabowo

Gigin kemudian mengaitkan peristiwa tersebut dengan kondisi kepemimpinan saat ini.

Ia menilai Prabowo berpotensi mengalami nasib politik yang serupa jika terus menunjukkan sikap yang tidak mencerminkan kehati-hatian sebagai pemimpin.

“Prabowo bisa bernasib sama bila terus bersikap seperti anak-anak yang berbicara sesukanya,” tegasnya.

Kritik dan Reaksi

Pernyataan Gigin pun menarik perhatian karena membandingkan potensi situasi politik pemerintahan Prabowo dengan peristiwa besar menjelang tumbangnya Orde Baru pada 1998.

Namun, perlu dicatat bahwa perbandingan itu adalah pandangan dan analisis pribadi Gigin Praginanto.

Situasi politik Indonesia saat ini memiliki konteks dan dinamika yang berbeda dibandingkan dengan masa Reformasi 1998.

Meski begitu, kritik Gigin menggarisbawahi pentingnya pemimpin untuk menjaga ucapan, sikap, serta sensitivitas terhadap suara publik.

Dalam sistem demokrasi, kepercayaan masyarakat menjadi salah satu modal penting bagi kelangsungan kepemimpinan.

Jadi, bagaimana menurut kamu tentang situasi ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: gelora.co (2026-08-30)

0 Komentar

Produk Sponsor