Jokowi Siapkan Strategi Jika Prabowo Tak Maju di Pilpres 2029

📌 Ringkasan Berita:
  • Jokowi aktif mendukung Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sebagai persiapan politik menjelang Pilpres 2029.
  • Fokus utama Jokowi adalah memastikan kelanjutan karier politik putranya, Gibran Rakabuming Raka, yang posisinya sebagai wakil presiden belum menjamin tiket cawapres di 2029.
  • Perebutan posisi cawapres di pemerintahan Prabowo diperkirakan akan ketat, dengan banyak partai yang memiliki kepentingan masing-masing menjelang pemilihan.

Langkah politik mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang lagi aktif membesarin Partai Solidaritas Indonesia (PSI) ternyata bukan hanya untuk ngebantu partai itu lolos ke Senayan.

Manuver ini juga berkaitan dengan perhitungan politik Jokowi untuk menghadapi ketidakpastian menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-08-14, Direktur Lembaga Survei Indonesia (LSI) Djayadi Hanan menyebut bahwa Jokowi sedang menyiapkan beberapa skenario politik.

Fokus utama skenario ini adalah untuk memastikan keberlanjutan karier politik putranya, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

Menurut Djayadi, posisi Gibran sebagai wakil presiden petahana belum tentu bikin dia dapat tiket sebagai calon wakil presiden (cawapres) di 2029.

Jadi, Jokowi dianggap perlu mempersiapkan alternatif dari jauh-jauh hari.

"Pak Jokowi harus siapkan diri dari sekarang. Banyak tantangan untuk memajukan kembali Gibran sebagai Cawapres Pak Prabowo di 2029. Maka solusinya buat Pak Jokowi hari ini adalah menyiapkan partai PSI," ujar Djayadi di channel Youtube Total Politik yang tayang pada Kamis (13/8/2026).

Djayadi juga menjelaskan bahwa salah satu skenario yang harus diperhitungkan Jokowi adalah jika Presiden Prabowo Subianto memutuskan untuk maju lagi dalam Pilpres 2029.

Dalam kondisi itu, peluang Gibran untuk jadi pendamping Prabowo diperkirakan gak mudah.

Salah satu alasan yang disebut adalah pola pergantian wakil presiden dari periode pertama ke periode kedua yang sering terjadi di era pemilihan langsung.

"Kita baru punya dua presiden di era pemilihan langsung, yaitu Pak SBY dan Pak Jokowi. Kebiasaannya, periode satu sama periode dua itu beda wakil presidennya," kata Djayadi.

Selain faktor historis, perebutan posisi cawapres juga dapat jadi masalah.

Partai-partai yang sekarang ada di pemerintahan Prabowo, seperti Golkar, PAN, dan Demokrat, diperkirakan punya kepentingan masing-masing menjelang Pilpres 2029.

"Setiap partai itu pasti kepengin dong, kalau enggak jadi presiden ya jadi wakil presiden. Mereka akan berlomba mencari posisi sebagai Cawapres Pak Prabowo," ujarnya.

Dengan keadaan ini, posisi Gibran belum bisa dibilang aman walaupun dia sekarang berstatus sebagai wakil presiden.

Skenario lainnya adalah jika Prabowo gak mencalonkan diri lagi di 2029.

Keputusan ini, menurut Djayadi, bisa dipengaruhi oleh banyak pertimbangan, termasuk evaluasi kinerja pemerintahan, tingkat kepuasan publik, dan juga pertimbangan pribadi.

Jika situasi ini terjadi, peta persaingan bakal berubah.

Partai-partai yang saat ini menjadi bagian dari koalisi pemerintahan kemungkinan tetap bakal mencari dukungan politik Prabowo, tapi di saat yang sama juga bersaing untuk mengusung kandidat masing-masing.

Dalam kondisi seperti ini, Jokowi dianggap masih butuh kekuatan politik untuk mendukung langkahnya.

Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!


Sumber: gelora.co (2026-08-14)

0 Komentar

Produk Sponsor