Ekspor Gelap: 7 Ton Emas dan 8.000 Ton Karet RI Terjual ke Luar Negeri

📌 Ringkasan Berita:
  • Di awal kemerdekaan, Indonesia menyelundupkan 7 ton emas dan 8.000 ton karet untuk mendapatkan dana di tengah blokade Belanda.
  • Emas diambil dari tambang Cikotok dan diselundupkan secara rahasia ke Makau untuk dijual, menghasilkan sekitar Rp140 juta untuk membiayai perjuangan Republik.
  • Tokoh Adnan Kapau Gani terlibat dalam penyelundupan, mengklaim dirinya sebagai penyelundup terbesar dengan nilai barang mencapai jutaan dolar yang dijual di Singapura.

Republik Indonesia pernah terlibat dalam penjualan 7 ton emas dan 8.000 ton karet secara diam-diam ke luar negeri tanpa melalui jalur resmi.

Keadaan Darurat di Awal Kemerdekaan

Melansir pemberitaan dari democrazy.id pada 15/08/2026, langkah tersebut diambil karena pemerintah butuh dana untuk menjalankan roda pemerintahan serta mempertahankan kemerdekaan dari Belanda.

Pada masa awal kemerdekaan, kondisi keuangan Republik serba terbatas.

Belanda berusaha membuat perekonomian Indonesia terpuruk melalui blokade.

Dengan jalur perdagangan resmi yang sulit digunakan, pemerintah mencari cara lain agar kekayaan Republik tetap bisa dioptimalkan dan tidak jatuh ke tangan Belanda.

Salah satunya adalah dengan menggunakan emas, yang diambil dari tambang emas Cikotok di Banten sebagai komoditas penting untuk diselundupkan.

Proses penyelundupan dilakukan secara rahasia menggunakan kereta api ke Yogyakarta.

Menurut diplomat Indonesia Aboe Bakar Lubis dalam Kilas Balik Revolusi (1992), emas tersebut disimpan di kantor pusat Bank Nasional Indonesia sebelum dibawa menggunakan pesawat menuju Bandara Maguwo.

Pengangkutannya dilakukan secara senyap dengan truk dan gerobak sapi yang ditutupi dedaunan agar tidak terdeteksi oleh tentara Belanda atau mata-mata mereka.

Dari Maguwo, emas diterbangkan melalui Filipina sebelum akhirnya sampai di Makau.

Makau saat itu dikenal sebagai salah satu pusat perjudian dunia dengan perputaran uang yang besar.

Harapannya, emas Republik bisa segera dijual dan diubah menjadi dana.

Tujuh ton emas tersebut akhirnya berhasil terjual seharga sekitar Rp140 juta.

Dana hasil penjualan digunakan untuk membiayai perjuangan Republik, termasuk kebutuhan diplomasi dan operasional perwakilan Indonesia di luar negeri.

Karet Juga Tak Ketinggalan

Namun, emas bukan satu-satunya kekayaan Republik yang diperdagangkan secara rahasia.

Sebelumnya, hasil perkebunan juga diperdagangkan diam-diam untuk mendapatkan pemasukan di tengah blokade Belanda.

Salah satu tokoh yang terlibat dalam kegiatan tersebut adalah Adnan Kapau Gani atau A.K. Gani.

Dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966) karya Cindy Adams, Soekarno bercerita tentang kontribusi Gani dalam membantu perjuangan Republik.

"Gani menyelundupkan 9 kg emas dan 300 kg perak dari Sumatra sebagai pembayaran 20.000 seragam tentara. Gani menyelundupkan karet, ada 8.000 ton sekali jalan," ungkap Soekarno.

Gani bahkan mengklaim dirinya sebagai penyelundup terbesar di dunia.

Rekor Penyelundupan yang Mencengangkan

Dalam laporan wartawan Tom Gurr yang dimuat surat kabar The Sun pada 8 Desember 1947, Gani mengungkapkan, "Saya adalah penyelundup terbesar di dunia."

Dalam wawancara tersebut, Gani menjelaskan bahwa klaim itu muncul karena dirinya menyelundupkan barang-barang bernilai jutaan dolar dari Indonesia ke Singapura dan sebaliknya.

Laporan itu menyebutkan bahwa karet, teh, gula, dan komoditas perkebunan lainnya senilai US$150 juta berhasil melewati blokade laut Belanda untuk kemudian dijual kepada pedagang Tionghoa di Singapura.

Perdagangan tersebut menjadi penting karena hasil penjualan dapat membantu Republik Indonesia dalam situasi yang sulit.

Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: democrazy.id (15/08/2026)

0 Komentar

Produk Sponsor