.png)
- Potensi konflik sosial di Indonesia meningkat akibat akumulasi masalah yang tidak terpecahkan, seperti tarif listrik dan pajak.
- Kemarahan publik saat ini dipicu oleh berbagai isu, namun belum ada satu isu dominan yang menyatukan keresahan masyarakat.
- Gejolak sosial terjadi secara lokal di berbagai daerah, dan ada kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih besar jika masalah terus menumpuk.
Mantan Penasihat Polri, Profesor Hermawan Sulistiyo, mengungkapkan bahwa potensi konflik sosial di Indonesia bisa meningkat jika masalah-masalah yang dikeluhkan masyarakat terus menumpuk tanpa ada solusi.
Penyebab Kemarahan Publik
Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-08-04, Kikiek menyatakan bahwa kemarahan publik saat ini dipicu oleh berbagai faktor, seperti kenaikan tarif listrik, beban pajak, dan biaya pendidikan.
Dia juga mencatat bahwa masih belum ada satu isu dominan yang menyatukan semua keresahan masyarakat.
" Sekarang pertanyaan publik, kenapa mal dipasang pagar? Orang marah karena listrik naik, pajak, sekolah, tetapi belum ada isu tunggal yang menyatukan semua kemarahan itu," kata Kikiek dalam podcast bersama Mahfud MD.
Gejolak Sosial di Berbagai Daerah
Dia menjelaskan bahwa gejolak yang muncul saat ini masih bersifat lokalistik, terjadi dalam skala kecil di berbagai daerah.
Bentuk gejolak ini dapat meliputi tawuran, konflik di jalan raya, hingga bentrokan antarkelompok yang semakin sering terjadi.
"Meletupnya masih kecil-kecil. Hari ini senggolan motor di jalan, tawuran, itu terjadi di berbagai tempat di Jalan Tambak Menteng, kemarin di Surabaya. Makin lama, frekuensinya makin tinggi sampai isu-isunya mulai mengerucut dan baam," ujarnya.
Narasi Krisis Ekonomi
Hermawan juga mencontohkan bahwa salah satu narasi yang berkembang adalah anggapan bahwa Indonesia sedang menghadapi krisis ekonomi yang serius alias Indonesia bangkrut.
Dia menyatakan bahwa konflik sosial di Indonesia seringkali mengalami eskalasi saat berbagai persoalan bertemu pada waktu tertentu.
"Di sini sudah mulai kecil-kecil menuju ke sana. Lalu sampai tingkat yang tidak bisa ditahan dan meledak seperti 1998, kapan itu terjadi? Selama simpul-simpul persoalan ini bertemu, karena orang masih melihat 17 Agustus itu sakral, biasanya selesai Agustusan," katanya.
Hermawan menambahkan bahwa sejarah menunjukkan bahwa kerusuhan besar biasanya dipicu oleh akumulasi masalah ekonomi, sosial, dan politik yang terjadi bersamaan.
Dia juga mengamati bahwa fenomena pemasangan pagar tinggi di pusat perbelanjaan mencerminkan kekhawatiran pelaku usaha terhadap situasi sosial di masa depan.
"Pemilik mal mulai ketakutan, sekarang dipagari semua, bahkan sudah ada yang kabur ke luar negeri," ujarnya.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: gelora.co (2026-08-04)
0 Komentar