Kivlan Zen Bahas Strategi Intelijen Prabowo "Makan Bubur Panas" dalam Menghadapi Oligarki

📌 Ringkasan Berita:
  • Kivlan Zen mengemukakan pandangan tentang strategi politik Prabowo yang berfokus pada konsolidasi kekuasaan secara bertahap, atau yang ia sebut "makan bubur panas".
  • Pengamat Amir Hamzah menekankan bahwa perubahan besar dalam pemerintahan harus dilakukan secara hati-hati untuk menjaga stabilitas nasional dan menghindari perlawanan.
  • Isu oligarki yang diangkat Kivlan menunjukkan pentingnya regulasi dan pengawasan untuk memastikan kekuatan ekonomi tidak mendikte kebijakan publik, serta menciptakan kompetisi usaha yang sehat.

Pernyataan Kivlan Zen tentang strategi politik Presiden Prabowo Subianto jadi bahan obrolan hangat di kalangan publik.

Pandangan Kivlan Zen

Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-07-13, Kivlan mengungkapkan pandangannya tentang oligarki dan konsolidasi kekuasaan, serta strategi yang dia sebut "makan bubur panas," yang artinya melakukan perubahan secara bertahap untuk menjaga stabilitas nasional.

Analisis Dari Pengamat

Menanggapi pandangan ini, pengamat intelijen dan geopolitik, Amir Hamzah, mengatakan ada banyak aspek menarik yang bisa dianalisis dari segi strategi negara.

Dia menjelaskan bahwa dalam ilmu intelijen, seorang pemimpin baru tidak bisa langsung mengubah semua struktur pemerintahan yang diwarisi dari pemimpin sebelumnya.

“Di dalam teori operasi intelijen maupun strategi politik negara, konsolidasi kekuasaan hampir selalu dilakukan secara bertahap.

Seb sebab sebuah negara tidak hanya terdiri atas presiden, tetapi juga birokrasi, aparat keamanan, lembaga negara, jaringan ekonomi hingga aktor-aktor non-negara yang memiliki pengaruh besar,” ujarnya.

Pendekatan Bertahap

Amir juga menambahkan bahwa langkah yang terlihat sebagai kompromi di permukaan tidak selalu mencerminkan kelemahan kepemimpinan.

Dalam banyak situasi di berbagai negara, pendekatan bertahap dipilih untuk menghindari perlawanan yang bisa mengganggu stabilitas nasional.

Dia berpendapat bahwa metafora “makan bubur panas” dari Kivlan lebih mencerminkan proses pengamanan transisi kekuasaan dibandingkan konfrontasi terbuka.

Setiap perubahan besar dalam birokrasi atau struktur kekuasaan cenderung berisiko menimbulkan perlawanan jika dilakukan secara mendadak.

“Dalam dunia intelijen dikenal konsep menjaga keseimbangan kekuatan terlebih dahulu sebelum melakukan reposisi aktor-aktor strategis.

Stabilitas sering kali menjadi prasyarat sebelum agenda perubahan dijalankan secara lebih luas,” katanya.

Mengenai Oligarki

Menanggapi isu oligarki yang diangkat Kivlan, Amir mengatakan bahwa istilah ini bukan hal baru dalam kajian politik.

Dia menjelaskan bahwa banyak negara modern menghadapi tantangan terkait konsentrasi modal pada kelompok ekonomi tertentu.

“Persoalannya bukan sekadar siapa pemilik modal, tetapi bagaimana negara memastikan agar kekuatan ekonomi tidak mendikte kebijakan publik.

Di sinilah fungsi regulasi, pengawasan, serta penegakan hukum menjadi sangat penting,” ujarnya.

Menurut Amir, keberhasilan pemerintah tidak diukur dari seberapa keras retorika terhadap oligarki, tetapi dari kemampuan negara menciptakan kompetisi usaha yang sehat.

Ini termasuk memperkuat industri nasional dan memperluas kesempatan bagi semua pihak.

Kesimpulan

Dengan semua pandangan ini, jelas bahwa diskusi tentang strategi politik dan oligarki sangat kompleks dan menarik untuk terus digali.

Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: gelora.co (2026-07-13)

0 Komentar

Produk Sponsor