
- Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra menilai kasus dugaan korupsi Jaksa Agung Muda Febrie Adriansyah memiliki nuansa politis untuk melindungi kepentingan Presiden Jokowi.
- Radjasa mengkhawatirkan loyalitas Febrie yang bisa beralih ke Prabowo Subianto, mengingat Febrie memiliki informasi penting terkait kasus rasuah.
- Meskipun ada kepentingan politik, Radjasa mendukung langkah hukum terhadap Febrie jika terbukti melakukan tindakan melawan hukum.
Praktisi intelijen Kolonel (Purn), Sri Radjasa Chandra, punya pandangan menarik tentang kasus dugaan korupsi yang melibatkan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah.
Menyimak pemberitaan dari democrazy.id pada 10/07/2026, Radjasa bilang kalau kasus ini ada nuansa politis yang cukup kental.
Ia menganggap Polri sedang mencari cara untuk menjadikan Febrie terseret dalam kasus ini demi melindungi kepentingan Presiden ke-7 Joko Widodo atau Jokowi.
Radjasa menyebut Febrie sebagai algojo paling beringas yang menangani berbagai kasus rasuah besar.
Karena itu, ia menduga Jokowi merasa terancam dengan keberadaan Febrie.
Jokowi, menurut Radjasa, khawatir jika loyalitas Febrie mulai beralih ke Presiden Prabowo Subianto.
Sri Radjasa menambahkan, "Ketika dia berubah orientasi loyalitas ke Presiden Prabowo, ada kecemasan buat Jokowi. Dia (Febrie) punya informasi kasus. Tentunya Febrie jadi ancaman, apalagi Febrie getol tindakan yang merugikan oligarki," dikutip dari Youtube Forum Keadilan TV pada Jumat, (10/7/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa Febrie dulu jadi andalan Jokowi dalam memberantas kasus rasuah selama pemerintahannya.
Radjasa bercerita bagaimana Jokowi pernah menugaskan Febrie untuk mengusut kasus PT. Asabri yang ada kaitannya dengan Airlangga Hartarto dan juga kasus PT. Jiwasraya yang berhubungan dengan Aburizal Bakrie.
"(Saat itu) Febrie tahu bahwa dia melakukan kriminalisasi demi kepentingan Jokowi (agar bisa) mengambil alih Golkar," kata dia.
Serangkaian kejadian ini yang membuat Jokowi cemas ketika Febrie mulai mengincar kasus-kasus korupsi yang bisa berujung pada dirinya.
Contohnya adalah kasus korupsi yang melibatkan mantan Mendikbudristek Nadiem Makarim.
Meskipun begitu, Radjasa tetap menghormati langkah hukum yang diambil oleh kepolisian.
Ia menilai bahwa penangkapan Febrie harus dilakukan jika terbukti ada tindakan melawan hukum.
"Bahkan kita kawal kalau menyangkut kejahatan. Cuma persoalannya ada kepentingan politik di balik semua ini," pungkasnya.
Dalam situasi ini, terlihat bahwa hubungan antara Jokowi dan Febrie berada dalam ketegangan yang cukup serius.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: democrazy.id (10/07/2026)
0 Komentar