
- Febrie Adriansyah dianggap sebagai 'algojo' Jokowi, menggunakan hukum untuk menjatuhkan lawan politiknya, terutama dalam konteks Partai Golkar.
- Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra mengungkap bahwa Febrie memanfaatkan skandal korupsi untuk "menyandera" tokoh-tokoh penting Golkar, seperti Airlangga Hartarto dan Aburizal Bakrie.
- Golkar kini terjebak dalam ambisi politik Jokowi, menjadi alat politik yang tidak berdaya di tengah ketidakpastian hukum yang dihadapi Febrie.
Febrie Adriansyah saat ini bukan hanya seorang pejabat penegak hukum, tetapi juga menjadi simbol di mana hukum bisa jadi alat untuk menjatuhkan lawan politik.
Peran Febrie sebagai 'Algojo' Jokowi
Melansir pemberitaan dari democrazy.id pada 13/07/2026, praktisi intelijen senior, Kolonel (Purn) Sri Radjasa Chandra, mengungkap sisi kelam dari mantan Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) ini ketika menjalankan tugasnya sebagai "algojo" andalan Presiden Joko Widodo.
‘Operasi Amputasi’ dan Dendam Politik
Dalam sebuah pengakuan di kanal YouTube Obor Rakyat Reborn, Radjasa menjelaskan mengapa Febrie dianggap sangat berbahaya.
Menurutnya, Jokowi menyadari betapa "sadis" dan efektifnya Febrie dalam menjalankan misi yang berkaitan dengan kekuasaan.
"Ini harus diamputasi (Jampidsus) momennya kapan ya ini sekarang? Oh, lebih bahaya (jika jadi Jaksa Agung) karena Jokowi pernah merasakan bagaimana ketika Jampidsus Febrie menjadi algojo-nya. Begitu luar biasanya, begitu sadisnya dia," ungkap Radjasa.
Kesadisan ini bukan soal kekerasan fisik, melainkan bagaimana Febrie memanipulasi hukum untuk "menyandera" kedaulatan partai besar, dengan Partai Golkar sebagai korban utama.
Menyandera ‘Dua Naga’ Beringin
Radjasa menjelaskan bagaimana Febrie menggunakan mega-skandal korupsi PT Asabri dan PT Asuransi Jiwasraya bukan untuk keadilan, tetapi sebagai "tali kekang" bagi dua sosok berpengaruh di Partai Golkar: Airlangga Hartarto dan Aburizal Bakrie.
"Karena yang menggunakan dana Asabri adalah Airlangga Ketua Golkar, kemudian di Jiwasraya yang menggunakan dana Jiwasraya adalah Bakrie (Aburizal Bakrie), pembina. Di situlah dia mainkan upaya 'penegakan hukum'," papar Radjasa dengan nada geram.
Desain hukum yang dibuat Febrie dinilai sangat licin.
Kasus-kasus tersebut tidak diselesaikan hingga tuntas, melainkan dibiarkan menggantung seperti pedang Damocles di atas kepala Airlangga dan Bakrie.
"Ngerinya bagaimana Febrie mendesain sebuah proses hukum yang tiba-tiba orang yang dikorbankan, kedua orang ini enggak ada masalah karena apa? Karena memang dibiarkan tapi disandera oleh Jokowi gitu loh," ujar Radjasa.
Golkar sebagai Kendaraan Pasca-Jokowi
Tujuan dari "penyanderaan" ini juga terungkap dengan jelas.
Golkar dipakai sebagai kendaraan politik yang harus melayani ambisi jangka panjang Jokowi, mulai dari wacana “tiga periode” hingga menjadi benteng perlindungan politik setelah masa jabatannya berakhir.
Dengan Febrie yang mahir memainkan "operasi senyap" ini, Golkar pun jadi tidak berdaya.
Mereka terpaksa menjadi alat, bukan lagi partai yang independen.
Kini, di tengah pusaran kasus yang kembali menghantam Febrie, publik bertanya-tanya: Apakah Febrie akan menghadapi konsekuensi dari semua ini?
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: democrazy.id (13/07/2026)
0 Komentar