Kegagalan bukanlah hal yang memalukan dan banyak pemimpin terkenal di dunia mengalami kegagalan sebelum mencapai puncak karier mereka.

Namun, yang jadi masalah adalah ketika seseorang terus-menerus gagal meskipun sudah mendapatkan kesempatan besar dalam hidupnya, lalu kembali gagal saat memegang posisi tertinggi.
Kisah politik Prabowo Subianto bisa dilihat dari perspektif ini.
Dia pernah gagal jadi calon wakil presiden di era reformasi, lalu dua kali mencalonkan diri sebagai presiden di 2014 dan 2019, dan dua kali juga harus menerima kekalahan dari rakyat di kotak suara.
Tapi di 2024, akhirnya dia berhasil dengan dukungan penuh dari penguasa sebelumnya, sumber daya negara yang besar, dan koalisi politik yang kuat, sehingga dia menduduki kursi Presiden Republik Indonesia.
Namun, di sinilah muncul ironi yang besar.
Ketika kesempatan yang dia kejar selama puluhan tahun ada di tangan, berbagai masalah mendasar bangsa tetap tidak menunjukkan tanda-tanda penyelesaian yang nyata.
Pertumbuhan ekonomi berjalan biasa saja, lapangan kerja berkualitas masih sulit ditemukan, daya beli masyarakat melemah, dan harga kebutuhan pokok menjadi keluhan sehari-hari.
Korupsi masih jadi masalah yang tidak kunjung terselesaikan.
Yang lebih mengkhawatirkan adalah kesan bahwa pemerintahan baru ini hanya melanjutkan pemerintahan sebelumnya.
Banyak rakyat yang berharap ada perubahan justru melihat kesinambungan masalah yang ditinggalkan tanpa ada keberanian untuk melakukan perbaikan mendasar.
Sejarah menunjukkan bahwa seorang pemimpin tidak diukur dari seberapa lama ia mengejar jabatan, tetapi dari apa yang berhasil dia lakukan setelah menjabat.
Di sinilah perbandingan dengan sejumlah pemimpin di Afrika menjadi menarik.
Selama bertahun-tahun, Afrika sering dipandang sebagai benua yang tertinggal, tetapi beberapa negara berhasil melahirkan pemimpin yang mampu mengubah nasib bangsanya dengan nyata.
Lihat saja Paul Kagame di Rwanda, negara ini berhasil keluar dari tragedi genosida yang menghancurkan hampir seluruh aspek kehidupan.
Dalam beberapa dekade, Rwanda berhasil membangun stabilitas politik, memperbaiki tata kelola pemerintahan, menekan korupsi, dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang konsisten.
Atau Seretse Khama yang meletakkan dasar pembangunan Botswana, yang dulunya termasuk negara termiskin di dunia, kini sering menjadi contoh keberhasilan pengelolaan sumber daya alam dan pemerintahan yang bersih di Afrika.
Bahkan Ellen Johnson Sirleaf sukses membawa Liberia keluar dari perang saudara yang berkepanjangan dan mengembalikan kepercayaan dunia terhadap negaranya.
Mereka memimpin negara-negara yang jauh lebih miskin dibandingkan Indonesia, memiliki infrastruktur yang lebih terbatas, dan modal pembangunan yang jauh lebih kecil.
Namun, mereka mampu menciptakan perubahan yang dapat dirasakan rakyatnya.
Di sisi lain, Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah, populasi yang produktif, wilayah strategis, dan anggaran negara yang terus meningkat setiap tahun.
Dengan semua modal ini, alasan untuk gagal semakin sulit dicari pembenarannya.
Ada kutipan terkenal dari Albert Einstein yang sering digunakan untuk menggambarkan kegagalan kepemimpinan: "Insanity is doing the same thing over and over again and expecting different results."
Jika pola kebijakan yang sama terus dipertahankan, jika lingkaran kekuasaan tetap terjaga, dan jika keberanian untuk melakukan koreksi tidak ada, maka tantangan akan terus berlanjut.
Dengan semua ini, kita bisa merenungkan bagaimana kepemimpinan yang efektif seharusnya menghasilkan perubahan yang nyata.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: fusilatnews.com (12/06/2026)
0 Komentar