
- Stuntman di film membantu menyelesaikan adegan berisiko, sementara di dunia bisnis, ada perusahaan yang berfungsi sebagai "pemeran pengganti" dalam perdagangan komoditas.
- Praktik perdagangan internasional ini sering kali legal, tetapi dapat menyebabkan masalah seperti pengalihan laba dan under invoicing yang merugikan Indonesia.
- DSI Danantara berencana memindahkan pusat pencatatan keuntungan ekonomi ke Indonesia, memanfaatkan sumber daya lokal agar keuntungan tidak mengendap di luar negeri.
Di dunia perfilman, istilah stuntman atau pemeran pengganti itu kayak, penting banget, guys.
Mereka ada untuk menggantikan aktor utama saat adegan yang berisiko atau butuh skill khusus.
Sering kali, penonton itu nggak pernah sadar kalau mereka ada, padahal tanpa mereka, banyak adegan yang sulit diselesaikan dengan baik.
Di sisi lain, dalam bisnis internasional, terutama di perdagangan komoditas kayak batu bara dan CPO, ada juga yang namanya "pemeran pengganti", tapi bukan manusia, melainkan perusahaan.
Perusahaan ini biasanya beroperasi di negara dengan tarif pajak yang lebih rendah dari Indonesia dan jadi perantara dalam transaksi global.
Walaupun keberadaannya sering kali legal, banyak juga praktik yang bisa bikin masalah, seperti under invoicing dan pengalihan laba yang bisa mengurangi keuntungan yang seharusnya tercatat di Indonesia.
Akibatnya, keuntungan yang seharusnya kena pajak di Indonesia malah mengendap di negara lain.
Di kawasan Asia, Singapura sudah jadi salah satu pusat perdagangan terbesar, dengan banyak transaksi komoditas yang lewat entitas di sana.
Faktor-faktor seperti infrastruktur keuangan yang kuat dan rezim perpajakan yang kompetitif bikin Singapura jadi favorit buat perusahaan perdagangan internasional.
Jadi, setiap usaha untuk memindahkan fungsi perdagangan ke Indonesia itu bukan sekadar ganti alamat perusahaan, tapi juga melibatkan sistem operasional dan reputasi yang sudah terbangun selama ini.
Di situlah ada tantangan dan peluang yang besar, dan kalau bisa dikelola dengan baik, manfaat ekonominya bisa signifikan bagi Indonesia.
Di sini hadir DSI Danantara yang berencana jadi pemeran pengganti dalam mata rantai perdagangan yang selama ini dilakukan lewat luar negeri.
Tujuannya bukan cuma ganti pemain, tapi juga memindahkan pusat pencatatan nilai tambah ekonomi ke Indonesia.
Sumber daya alam dan tenaga kerja ada di Indonesia, jadi logis banget kalau manfaat ekonomi yang dihasilkan juga harus kembali ke sini.
Dapat dibayangkan seperti keluarga yang punya kebun sawit, menghasilkan panen melimpah, tapi setiap kali jual, sebagian keuntungannya dititipkan ke tetangga sebelum balik ke rumah.
Seiring waktu, rumah itu kelihatan dapat keuntungan lebih kecil dari yang sebenarnya, padahal sumbernya tetap dari kebun mereka sendiri.
Situasi ini mencerminkan fenomena perpindahan laba antar yurisdiksi.
Menyimak pemberitaan dari fusilatnews.com pada 14/06/2026, DSI Danantara berupaya untuk mengembalikan profit yang selama ini mengendap di luar negeri.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: fusilatnews.com (14/06/2026)
0 Komentar