
- Tragedi pasca-demonstrasi di depan Gedung Bawaslu pada Mei 2019 kembali disorot, dengan laporan tentang tindakan represif dan penyiksaan terhadap peserta aksi.
- Saksi mengungkapkan banyak aktivis, termasuk pendukung Prabowo Subianto, mengalami luka serius dan beberapa kehilangan nyawa akibat penangkapan yang brutal.
- Pendamping hukum berkomitmen untuk mengungkap kebenaran di pengadilan, menghadirkan bukti-bukti kekerasan yang dialami korban dan menuntut pertanggungjawaban dari penyidik.
Jejak kelam tragedi pasca-aksi demonstrasi di depan Gedung Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) pada Mei 2019 kembali menjadi sorotan.
Tragedi Kemanusiaan dan Upaya Pencarian Keadilan
Mengutip pemberitaan dari democrazy.id pada 24/06/2026, seorang pendamping hukum yang terlibat langsung dalam penanganan kasus tersebut mengungkapkan narasi memprihatinkan terkait dugaan tindakan represif dan penyiksaan yang dialami oleh para peserta aksi, aktivis, hingga tokoh pendukung Prabowo Subianto kala itu.
Dalam kesaksian yang disampaikan, ia menjelaskan bahwa peristiwa tersebut meninggalkan trauma mendalam, tidak hanya bagi keluarga korban, tetapi juga bagi mereka yang mengawal proses hukum para korban.
Menurut kesaksian tersebut, aksi demonstrasi yang berakhir ricuh di depan Gedung Bawaslu pada 2019 bukan sekadar konflik massa biasa, melainkan sebuah peristiwa yang menelan banyak korban jiwa dan luka-luka.
Ia menuturkan bahwa pasca-kejadian, banyak aktivis dan tokoh pendukung Prabowo Subianto yang ditangkap oleh pihak berwenang dengan prosedur yang dinilai tidak lazim.
“Saya menyaksikan sendiri betapa brutalnya penangkapan saat itu. Banyak orang yang kami dampingi mengalami luka fisik serius, bahkan hingga kehilangan nyawa,” ujar saksi dalam keterangannya.
Bukti Penyiksaan yang Membekas
Salah satu kasus yang paling membekas adalah pendampingan hukum terhadap seorang mantan dosen Institut Pertanian Bogor (IPB).
Saat pertama kali bertemu dengan kliennya tersebut di rutan Polda Metro Jaya, saksi mengaku terperangah melihat kondisi fisik korban yang sangat memprihatinkan.
“Luka-luka akibat tindakan kekerasan fisik dan bekas sengatan listrik masih terlihat jelas membekas di sekujur tubuh beliau. Itu adalah bukti nyata dari tindakan yang melampaui batas kemanusiaan,” tambahnya dengan nada berat.
Menghadirkan Fakta di Ruang Sidang
Dalam persidangan, pendamping hukum ini berkomitmen untuk membuka tabir kebenaran.
Ia secara berani menyajikan bukti-bukti otentik, termasuk dokumentasi berupa foto-foto kondisi rumah korban yang saat kejadian bersimbah darah.
Bukti-bukti tersebut dipaparkan di hadapan majelis hakim guna memperjelas tingkat kekerasan yang dialami kliennya.
Tidak berhenti di situ, saksi juga melakukan konfrontasi langsung dengan para penyidik di dalam ruang sidang.
Ia mencecar para penyidik satu per satu, menuntut pertanggungjawaban mengenai siapa pihak yang bertanggung jawab atas instruksi maupun tindakan penyiksaan tersebut.
“Kami tidak akan berhenti sebelum keadilan ditegakkan. Setiap penyidik yang kami cecar di depan majelis hakim adalah upaya kami untuk menuntut transparansi dan pertanggungjawaban atas tindakan yang mencederai hak asasi manusia,” tegasnya.
Berita ini menunjukkan betapa pentingnya transparansi dalam sistem hukum dan keadilan bagi korban.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: democrazy.id (24/06/2026)
0 Komentar