Bahlil Pangkas Pasokan Batu Bara dari 900 menjadi 600 Juta Ton, Pasokan Listrik Nasional Terancam

📌 Ringkasan Berita:
  • Sentinel Energy Indonesia (SEI) menanggapi pernyataan Menteri ESDM tentang keamanan pasokan batu bara, menyatakan bahwa kondisi di lapangan justru menunjukkan tekanan serius pada rantai pasok batu bara.
  • Koordinator SEI, Jefferson, mengungkapkan bahwa penurunan Hari Operasi Pembangkit (HOP) di PLTU bukan hanya masalah teknis, melainkan tanda bahwa stok batu bara tertekan akibat pasokan yang tersendat.
  • Perubahan kebijakan RKAB batu bara yang dipimpin Bahlil Lahadalia dianggap SEI sebagai penyebab utama ketidakpastian di sektor hulu, yang berdampak pada kesinambungan pasokan batu bara ke PLTU dan kelistrikan nasional.

Sentinel Energy Indonesia (SEI) memberikan respon atas pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, yang bilang kalau pasokan batu bara untuk pembangkit listrik nasional itu aman dan gangguan listrik yang ada itu cuma masalah teknis.

Realita Pasokan Batu Bara

Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-06-16, Koordinator SEI, Jefferson, berpendapat bahwa pernyataan Bahlil tidak mencerminkan kondisi nyata di lapangan.

Ia menunjukkan adanya tekanan serius pada rantai pasok batubara di Jawa, Madura, dan Bali, yang terlihat dari penurunan Hari Operasi Pembangkit (HOP) di beberapa PLTU yang hampir mencapai batas minimum operasional.

Indikator Penurunan HOP

Jefferson menegaskan bahwa penurunan HOP ini bukan sekadar masalah teknis, tetapi sebagai sinyal nyata bahwa stok batubara di sejumlah pembangkit di lapangan itu tertekan karena pasokan yang tersendat.

SEI menyoroti bahwa masalah utama ini berakar dari perubahan kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara nasional di bawah Kementerian ESDM yang dipimpin oleh Bahlil Lahadalia.

Perubahan Kebijakan dan Dampaknya

"Terutama perubahan skema produksi dan ketidakpastian persetujuan yang berjalan di sektor hulu," kata Jefferson, dikutip pada Selasa 16 Juni 2026.

Sebelumnya, produksi batu bara nasional itu direncanakan stabil di sekitar 900 juta ton per tahun, tetapi kini tertekan menjadi sekitar 600 juta ton pada tahun 2026 karena alasan penyesuaian pasar global.

Namun, SEI menilai bahwa penyesuaian ini tidak didukung dengan kesiapan implementasi di lapangan.

Jefferson menambahkan, perubahan drastis ini telah menciptakan ketidakpastian luas di sektor hulu, mulai dari perencanaan produksi, investasi alat berat, hingga kontrak jangka panjang dengan pembangkit, sehingga mengganggu kesinambungan pasokan ke PLTU.

Keterlambatan dan ketidakpastian persetujuan RKAB yang baru, yang baru terealisasi sekitar 580 juta ton di awal tahun ini, telah menyebabkan tersendatnya aliran batu bara ke PLTU dan menurunkan level HOP di berbagai titik strategis sistem kelistrikan Jawa, Madura, dan Bali.

Di akhir, situasi ini menunjukkan tantangan besar dalam penyediaan batu bara yang bisa berdampak pada kelistrikan nasional.

Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!




Sumber: gelora.co (2026-06-16)

0 Komentar

Produk Sponsor