.jpg)
- Masyarakat adat Sekappung Limo Migo menolak kunjungan Presiden Jokowi jika dikaitkan dengan agenda politik, termasuk Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
- Panitia Festival Budaya meminta Jokowi hadir setelah prosesi adat selesai, untuk menjaga kemurnian acara sakral tersebut.
- Kunjungan Jokowi akhirnya dibatalkan, mengecewakan warga yang telah menunggu dan memicu tindakan simbolis seperti mencopot spanduk dan melepas tanda pengenal kepanitiaan.
Masyarakat adat Sekappung Limo Migo di Desa Pugung Raharjo, Kecamatan Sekampung Udik, Kabupaten Lampung Timur, menolak jika kunjungan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) dimanfaatkan untuk kepentingan politik, termasuk dikaitkan dengan agenda Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Pernyataan Panitia Festival Budaya
Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-06-30, penolakan itu disampaikan Panitia Festival Budaya Sekappung Limo Migo yang menegaskan prosesi adat merupakan kegiatan sakral dan tidak boleh dicampur dengan aktivitas politik.
Ketua Pelaksana Festival Budaya Sekappung Limo Migo, Ibrahim Restusaka, mengatakan panitia tidak melarang Jokowi hadir.
Namun, kehadiran mantan presiden itu diminta dilakukan setelah seluruh rangkaian prosesi adat selesai atau di atas pukul 11.00 WIB.
"I kami tidak mau acara sakral adat budaya Sekappung Limo disusupi agenda politik. Boleh hadir asalkan acara sakral sudah selesai, di atas pukul 11.00," ujar Ibrahim saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon, Minggu, 28 Juni 2026.
Menurut Ibrahim, keputusan tersebut diambil demi menjaga kemurnian nilai-nilai adat dan budaya yang selama ini dijunjung tinggi masyarakat.
Di tengah polemik itu, Jokowi akhirnya membatalkan kunjungan ke Pugung Raharjo.
Padahal, sesuai agenda semula, ia dijadwalkan mengikuti kirab budaya dan menyapa warga di kawasan Taman Purbakala Pugung Raharjo.
Pembatalan tersebut memicu kekecewaan ribuan warga yang telah menunggu sejak pagi.
Sejumlah warga bahkan menolak menerima paket sembako yang sedianya dibagikan dalam rangkaian kunjungan.
Spanduk bergambar Jokowi yang terpasang di kawasan Taman Purbakala juga dicopot.
Panitia yang telah mempersiapkan festival selama hampir satu bulan turut meluapkan kekecewaan dengan melepas tanda pengenal kepanitiaan dan membuangnya ke tanah.
Tokoh Adat Pugung Raharjo, Ahmad Kausar, mengatakan seluruh persiapan kunjungan telah dilakukan mengikuti arahan tim Jokowi dari Jakarta.
"Kami telah mempersiapkan acara ini satu demi satu tahapan sesuai standar dan SOP yang diberikan oleh tim Bapak Jokowi dari pusat," katanya.
Kesimpulan dan Interaksi
Kunjungan Jokowi yang batal ini menyisakan kekecewaan bagi masyarakat yang sudah menunggu, dan ini menciptakan banyak pertanyaan tentang interaksi antara politik dan budaya.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: gelora.co (2026-06-30)
0 Komentar