
- Hendrajit mengkritisi wacana Reformasi Jilid II dan menekankan perlunya evaluasi terhadap Reformasi Jilid I sebelum melanjutkan diskusi.
- Dia mengibaratkan situasi reformasi dengan kisah Daud dan Goliat, mempertanyakan siapa sebenarnya "Goliat" yang dilawan dalam konteks kekuasaan yang tersembunyi.
- Hendrajit menyatakan bahwa meski reformasi dianggap berhasil, kenyataannya agenda perubahan malah beralih dan melemahkan instrumen pemberdayaan rakyat.
Pengamat geopolitik dan wartawan senior, Hendrajit, lagi-lagi mempertanyakan wacana tentang Reformasi Jilid II yang mulai hangat dibahas.
Pertanyaan Kritis Hendrajit
Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-06-14, Hendrajit merasa penting untuk melakukan evaluasi mendalam sebelum membahas reformasi lanjutan.
Dia mengungkapkan rasa penasarannya dengan mengatakan, “Terus terang kalau belakangan ini bergulir wacana Reformasi Jilid II, saya jadi penasaran apa yang salah dari Reformasi Jilid I. Dan bagaimana membahasakannya secara sederhana sehingga orang awam nyambung.”
Goliat dan Daud dalam Reformasi
Hendrajit juga mengibaratkan eksponen reformasi 1998 dengan kisah Daud dan Goliat, tetapi bertanya siapa sebenarnya sosok Goliat yang dilawan.
Dia menjelaskan bahwa jatuhnya Presiden Soeharto pada 1998 adalah bagian dari sejarah yang sudah diprediksi banyak pihak sebelumnya.
Hendrajit menyatakan, “Tragedinya adalah, ada struktur kekuasaan tersembunyi dan tak kasat mata berupa konglomerasi multinasional yang didukung negara-negara besar yang diam-diam sedang menumbalkan Soeharto sebagai Goliat yang tampak muka dan harus dihantam.”
Dia berpendapat, saat perhatian masyarakat terfokus pada sosok yang terlihat, ada kekuatan lain yang beroperasi di balik layar.
Hendrajit menambahkan, “Sementara Goliat tampak belakang tak tampil di panggung. Tapi bermain secara aktif di koridor-koridor kanan dan kiri panggung.”
Ilusi Kemenangan Reformasi
Setelah “Goliat yang tampak” berhasil dikalahkan, muncul kekuatan baru yang mengambil alih panggung dengan cara dan teknologi yang berbeda.
Dia mengatakan, meski pelaku reformasi mengira mereka telah memenangkan revolusi, kenyataannya agenda perubahan tersebut beralih menjadi reformasi yang mengubah arah perjuangan.
Hendrajit menjelaskan, “Begitu Goliat tampak muka tumpas, Daud mengira yang bersorak dan mengelu-elukan kemenangan itu adalah musuh-musuh Goliat. Padahal yang mengelu-elukan kemenangan Daud atas Goliat itu ilusi.”
Dia berpendapat bahwa reformasi tidak berhasil membangun kerjasama strategis antara negara dan kekuatan sosial yang sebelumnya terpinggirkan.
Hendrajit menggarisbawahi bahwa dalam skema ideal, negara seharusnya menjadi mitra bagi unsur pembebasan nasional.
Namun, menurutnya, yang terjadi malah sebaliknya, yaitu melemahnya instrumen yang bisa memberdayakan rakyat.
Dia juga menambahkan, “Bahkan akhirnya, Daud yang menyangka Goliat sudah mati, dengan senang hati melumpuhkan sarana-sarana pembebasan rakyat yang ironisnya justru dengan menggunakan demokrasi.”
Kesimpulannya, Hendrajit menekankan pentingnya merenungkan keberhasilan dan kegagalan reformasi guna memahami arah selanjutnya.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: gelora.co (2026-06-14)
0 Komentar