
- Narasi pesimistis seperti "Indonesia Bangkrut" dianggap bertentangan dengan tradisi perjuangan kemandirian bangsa.
- Haris Rusly Moti menyoroti pentingnya membandingkan narasi negatif saat ini dengan perjuangan para pendiri bangsa melawan kolonialisme.
- Pemerintah di bawah Presiden Prabowo Subianto fokus pada penguatan ekonomi dan pemberantasan kebocoran penerimaan negara sebagai respons terhadap kritik.
Beragam narasi pesimistis tentang Indonesia, kayak "Indonesia Bangkrut" dan "Sale Indonesia", lagi jadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
Menanggapi Narasi Pesimistis
Menyimak pemberitaan dari gelora.co pada 2026-06-15, Haris Rusly Moti, yang merupakan pemrakarsa 98 Resolution Network, menyebut bahwa narasi-narasi tersebut bertentangan sama tradisi gerakan sosial yang selama ini memperjuangkan kemandirian dan kedaulatan bangsa.
Dia bilang, "Jika kita perhatikan narasi 'Indonesia Bangkrut, Sale Indonesia, Indonesia Gelap, Kabur dari Indonesia, Buang Rupiah' ini narasi sampah anti-kemandirian, sangat anomali dan tidak pernah dikenal dalam tradisi gerakan sosial."
Haris juga menekankan kalau narasi-narasi pesimistis ini perlu dibandingkan sama usaha-usaha para pendiri bangsa yang selalu berjuang melawan kolonialisme dan ketidakadilan.
Pledoi Sejarah
Dia nge-example pledoi Indonesia Merdeka dari Bung Hatta pada 1928 dan Indonesia Menggugat dari Bung Karno di 1930.
Menurut Haris, kedua tokoh ini menawarkan pandangan yang berlawanan dengan kolonialisme, yaitu cita-cita Indonesia yang merdeka dan berdaulat.
Dia menambahkan, "Kita prihatin, 80 tahun setelah Indonesia merdeka justru muncul narasi anti-kemandirian Indonesia seperti Indonesia Bangkrut, Sale Indonesia dan sebagainya."
Lebih lanjut, Haris menyoroti bahwa narasi ini malah diusung oleh beberapa intelektual dan mahasiswa yang mengatasnamakan gerakan sosial.
Dari Kemandirian Menuju Kebijakan
Semangat kemandirian nasional dihidupkan kembali oleh Presiden Prabowo Subianto melalui berbagai kebijakan yang fokus pada penguatan ekonomi nasional.
Haris juga menjelaskan bahwa kini isu seperti kebocoran penerimaan negara, praktik under invoicing, hingga transfer pricing menjadi agenda pemerintah.
Dia bilang, "Ketika para pengkritik menuntut pemberantasan korupsi, Presiden Prabowo justru melangkah lebih mendasar dengan memberantas kebocoran penerimaan negara, under invoicing dan transfer pricing."
Haris menilai ada sebagian kelompok pengkritik yang sudah kehabisan ide untuk memberikan gagasan alternatif terhadap kebijakan pemerintah.
Kesimpulannya, narasi-narasi pesimistis tentang Indonesia memang lagi hangat dibahas, dan ada banyak sudut pandang yang bisa diambil dari situ.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: gelora.co (2026-06-15)
0 Komentar