
- Connie Rahakundini Bakrie menyarankan Presiden Prabowo untuk lebih terbuka menerima masukan dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan tokoh senior.
- Dia mengkritik dominasi Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dalam pengambilan keputusan, yang dianggap menghalangi akses masyarakat kepada Presiden.
- Connie menekankan pentingnya diskusi dan pemikiran matang dalam pengambilan keputusan strategis, bukan hanya mengandalkan kekuatan militer dan alutsista.
Pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie memberikan saran kepada Presiden Prabowo Subianto untuk lebih terbuka dalam menerima masukan dari berbagai pihak, termasuk akademisi dan tokoh senior.
Saran Terbuka untuk Prabowo
Melansir pemberitaan dari gelora.co pada 2026-06-13, Connie menyebut bahwa Indonesia kini menghadapi beragam masalah kompleks yang membutuhkan pemikiran yang matang.
Dia menekankan pentingnya untuk tidak hanya mengandalkan lingkaran kecil di sekitar Presiden.
Connie juga menyoroti peran Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang dianggapnya terlalu mendominasi dalam keputusan pemerintahan Prabowo.
“Yang Pak Prabowo mesti denger sekarang, coba suruh Teddy libur dulu ke mana nggak tahu saya, ke kutub kek, ke Afrika ke mana gua nggak ngertilah suruh dia ngapain. Jangan ada dulu Teddy,” kata Connie dalam podcast Refly Harun.
Connie mendorong agar Presiden meluangkan waktu untuk berdiskusi dengan orang-orang yang punya pengalaman dalam mengelola negara.
“Dia duduk dengan semua orang-orang terdekat dia yang betul-betul sudah punya asam garam, yang matang,” ujarnya.
Connie juga menyebut tokoh-tokoh yang layak didengar oleh Presiden.
“Dengarkan Pak Dasco, dengarkan Pak Sjafrie, dengarkanlah semua orang, nggak cuma Pak Dasco sama Pak Sjafrie ya, yang lain-lain-lain. Tapi dengarkan orang-orang ini termasuk dengarkan akademisi,” katanya.
Ia menilai ada persepsi di masyarakat yang menyebut akses kepada Presiden semakin terbatas.
Connie juga mencatat bahwa ada pandangan di media sosial yang menganggap Teddy memiliki pengaruh besar dalam pemerintahan.
“Semua akses ke beliau tuh ditutup. Jadi the real president tuh adalah Teddy. Orang udah sampai... bukan saya nyimpulin nih, kalau saya baca sosial media kan udah kayak begitu,” ujarnya.
Lebih jauh, Connie mengusulkan agar Presiden mengedepankan diskusi dan kajian dalam pengambilan keputusan strategis.
Dia juga mengkritik pandangan yang menyatakan bahwa kekuatan negara hanya ditentukan oleh militer dan alutsista.
“Kekuatan tuh di pikiran. Ini udah hilang di Pak Prabowo sekarang. Seolah kekuatan tuh di besi, di senjata, di alutsista, di alpalhankam. No, kekuatan negara itu kekuatan bangsa itu di pikirannya. Makanya lahir peradaban kan,” kata Connie.
Connie percaya bahwa kemajuan bangsa muncul dari gagasan yang kuat dan pemikiran yang matang, bukan hanya dari kekuatan fisik.
Dengan demikian, dia berharap Presiden bisa lebih banyak menyerap pandangan dari elemen masyarakat sebelum membuat keputusan kebijakan.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: gelora.co (2026-06-13)
0 Komentar