
Reshuffle Kelima Kabinet Prabowo Dapat Sorotan
Langkah Presiden Prabowo Subianto dalam melakukan reshuffle kabinet untuk kelima kalinya mendapatkan kritik tajam dari berbagai pihak. Direktur Eksekutif Lingkar Madani (Lima) Indonesia, Ray Rangkuti, menilai bahwa perubahan dalam susunan kabinet kali ini belum menunjukkan adanya pembaruan yang signifikan.
Ray mengungkapkan bahwa pergantian pejabat kali ini lebih mencerminkan pola lama, di mana figur-figur yang sama hanya dipindahkan ke posisi baru atau diangkat kembali setelah sebelumnya dicopot.
Sindiran 'I Tu Si' Alias Itu-Itu Saja
Dalam komentarnya, Ray menggunakan istilah khas Mandailing untuk menggambarkan kondisi reshuffle yang baru saja dilakukan. Ia mengatakan, "Mengutip istilah orang Mandailing: i tu si. Artinya itu itu saja. Begitulah situasi reshuffle yang baru saja dilakukan oleh presiden Prabowo. Mengangkat kembali orang yang pernah diberhentikan, lalu merotasi yang lain dari satu tempat ke tempat lainnya." Menurutnya, perombakan kabinet tersebut tidak memberikan kejutan politik karena wajah-wajah yang muncul masih berasal dari lingkaran lama kekuasaan.
Jumhur Hidayat Satu-satunya Figur Baru
Ray juga mencatat bahwa hanya terdapat satu nama yang benar-benar baru dalam susunan kabinet hasil reshuffle, yaitu Jumhur Hidayat. "Satu-satunya yang baru hanyalah wajah Jumhur Hidayat. Seorang pegiat buruh dan TKI, kini, menjabat sebagai menteri lingkungan hidup," jelas Ray. Masuknya Jumhur Hidayat dianggapnya sebagai satu-satunya elemen segar di tengah dominasi nama-nama lama dalam kabinet.
Rotasi Internal, Bukan Perubahan Besar
Mantan aktivis 98 ini berpendapat bahwa makna reshuffle di era Prabowo lebih bersifat penataan ulang jabatan di antara orang-orang terdekat presiden. "Lagi-lagi, makna reshuffle bagi Prabowo tidak lebih dari memutar-mutar posisi di antara orang-orangnya sendiri. Dan umumnya merotasi posisi jabatan-jabatan di luar yang ditempati oleh kader parpol," kritiknya.
Jabatan Nonpartai Paling Sering Diutak-atik
Ray juga menyoroti bahwa reshuffle yang terjadi lebih sering menyasar pejabat dari kalangan nonpartai dibandingkan kader partai politik yang mendukung pemerintah. "Sudah lima kali reshuffle, sepanjang itu yang terus diutak atik hanyalah jabatan yang berkisar di lingkungan non parpol. Satu-satunya anggota kabinet dari parpol yang pernah direshuffle oleh Prabowo hanyalah Dito Ariotedjo (Golkar)," ungkap Ray, menambahkan bahwa Dito Ariotedjo menjadi pengecualian dalam pola reshuffle tersebut.
Sumber: gelora.co (2026-04-28)
0 Komentar