PSI Sarankan JK Nasihati Said Didu, Roy Suryo, dan Dokter Tifa Terkait Polemik Ijazah Jokowi

Pernyataan Kader PSI Mengenai Polemik Ijazah Jokowi

Seruan Jusuf Kalla (JK), mantan Wakil Presiden Indonesia ke-10 dan ke-12, yang meminta Presiden Joko Widodo untuk menunjukkan ijazah aslinya, mendapat tanggapan dari kader Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Dian Sandi Utama. Dalam komentarnya yang diposting di akun media sosialnya, Dian Sandi menegaskan bahwa JK menghormati Jokowi serta keaslian ijazahnya.

Ajakan untuk Menasihati Pihak Terkait

Dian Sandi kemudian mengajak JK untuk memberikan nasihat kepada Roy Suryo dan rekan-rekannya agar tidak terus-menerus mengganggu Jokowi. Ia menulis, “Pak JK dan Pak Jokowi saling menghormati, makanya beliau sampaikan prcya ijazah tsb ASLI. Drpd meminta menunjukkan barang yg sdh diketahui keasliannya mending beliau panggil Said Didu, Roy Suryo, dr. Tifa dkk nasehati, minta berhenti mengganggu Pak Jokowi. Mereka pasti nurut!” kutip Dian Sandi pada Kamis malam, 9 April 2026.

Pernyataan JK Mengenai Polemik Ijazah

Sebelumnya, JK juga menegaskan bahwa polemik mengenai ijazah palsu Jokowi perlu dihentikan karena merugikan masyarakat. Ia menyatakan, "Sebenarnya sederhana persoalannya, karena saya yakin Pak Jokowi bahwa punya ijazah asli. Ya sebenarnya kita setop lah ini perkara dengan cara tinggal Pak Jokowi memperlihatkan ijazahnya kan yang asli. Saya yakin itu, itu saja, supaya ini, habis waktu kita."

Dampak Negatif dari Polemik yang Berlangsung

JK melanjutkan bahwa polemik ini telah berlangsung terlalu lama, sekitar dua hingga tiga tahun, dan mengkhawatirkan adanya perpecahan serta pemborosan waktu dan biaya. Ia mengungkapkan, "Ya sebenernya kasus ini kan sudah 2 tahun, 3 tahun. Meresahkan masyarakat, merugikan waktu, merugikan Pak Jokowi, merugikan semua, puluhan miliar uang habis untuk apakah itu pengacara, apakah itu seperti saya ini, waktu saya hilang, dilibatkan.”

JK juga menambahkan, “Anda mungkin senang karena tiap malam ada berita kan, tapi kita waktu habis, biaya ongkosnya mahal, dan terjadi perpecahan di masyarakat. Pro kontra kan perpecahan, mati-matian di TV. Itu sifat nasional kita terganggu dengan cara itu," tutupnya.




Sumber: gelora.co (2026-04-09)

0 Komentar

Produk Sponsor