
Pernyataan Kontroversial Aboe Bakar Alhabsyi
Politisi dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Aboe Bakar Alhabsyi, tengah menghadapi konsekuensi dari pernyataannya yang memicu gejolak di kalangan masyarakat Madura.Dalam sebuah rapat resmi pada 7 April 2026, Aboe Bakar menuduh ulama dan pesantren di Madura terlibat dalam jaringan narkoba.
Ucapan ini segera menuai kecaman keras dari berbagai pihak, termasuk Ormas Madas Nusantara yang dipimpin oleh KRH. HM. Jusuf Rizal.
Panggilan dari Majelis Kehormatan Dewan
Akibat pernyataannya, Aboe Bakar telah menerima surat panggilan dari Majelis Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI. Surat yang ditandatangani oleh Wakil Ketua MKD, R.H. Imron Amin, pada 13 April 2026, meminta Aboe Bakar untuk mempertanggungjawabkan ucapannya terkait dugaan keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam bisnis narkoba.Dalam surat tersebut, MKD menyatakan bahwa panggilan ini berdasarkan hasil verifikasi yang telah dilakukan terkait ucapan Aboe Bakar.
“Bersama ini kami sampaikan bahwa sehubungan dengan maraknya pemberitaan yang menjadi perhatian masyarakat terkait pernyataan Saudara (Habib Aboe Bakar) tentang keterlibatan ulama dan pesantren di Madura dalam pusaran narkoba,” tulis surat panggilan tersebut.
Respons Ormas dan Aspirasi Masyarakat
KRH. HM. Jusuf Rizal, selaku Ketua Umum Ormas Madas Nusantara, mengungkapkan bahwa pernyataan Aboe Bakar sangat mengecewakan dan tidak bisa ditolerir.Ia menyatakan bahwa ucapan tersebut telah mencemarkan marwah Madura dan mendapatkan reaksi emosional dari warga setempat. Jusuf Rizal menegaskan, “Pernyataan Aboe Bakar itu tidak bisa ditolerir karena disampaikan dalam forum resmi. Ia harus mempertanggungjawabkan dan membuktikan ucapannya.”
Ormas Madas Nusantara juga berencana melaporkan Aboe Bakar ke pihak kepolisian sebagai langkah lanjutan dari ketidakpuasan masyarakat.
Perdebatan Mengenai Citra Madura
Ucapan Aboe Bakar yang merendahkan citra ulama dan pesantren di Madura dianggap sangat mencolok, mengingat daerah tersebut dikenal memiliki tradisi keagamaan yang kuat.Dalam rapat dengan Kepala BNN, Komjen Suyudi Ario Seto, Aboe Bakar menyatakan, “Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, coba cek benar tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa?"
Kecaman terhadap Aboe Bakar semakin meningkat, menunjukkan bahwa pernyataan tersebut tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tetapi juga pada persepsi umum terhadap masyarakat Madura.
Sumber: gelora.co (2026-04-15)
Sumber: gelora.co (2026-04-15)
0 Komentar