
Kisah Tangis Amsal Sitepu di Rapat Dengar Pendapat
Tangis Amsal Sitepu pecah saat memberikan kesaksian dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) yang diadakan oleh Komisi III DPR RI. Amsal merupakan terdakwa dalam kasus dugaan korupsi terkait proyek pembuatan video profil desa di Kabupaten Karo, Sumatera Utara.
Rapat Dengar Pendapat Bersama Komisi III
RDPU tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi III DPR RI, Habiburrokhman, dan dilaksanakan secara hybrid di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, serta di Sumut pada hari Senin, 30 Maret 2026. Dalam momen tersebut, Amsal mengungkapkan kebingungannya terkait kasus yang menimpanya.
Kebingungan Terkait Kasus Dugaan Korupsi
Amsal menyampaikan, “Dan sampai saat ini pun sebenarnya saya sangat bingung atas kondisi ini. Dan di dalam persidangan itu, saya menemukan bahwa di dalam LHP (Laporan Hasil Pemeriksaan), ditemukan bahwa, markup ditemukan karena ada item yang di nol-kan oleh auditor dan diamini oleh JPU (Jaksa Penuntut Umum) dalam surat tuntutannya.”
Ia merinci beberapa komponen pekerjaan kreatif, seperti ide, editing, cutting, dubbing, hingga penggunaan mikrofon clip on, yang total nilainya mencapai Rp5,9 juta. Namun, komponen-komponen tersebut justru dianggap nol oleh auditor dan jaksa penuntut umum.
“Itu ada ide, ide itu besarannya di dalam proposal itu 2 juta, editing 1 juta, cutting 1 juta, dubbing 1 juta, clip on atau mikrofon 900 ribu, totalnya 5,9 juta ini semuanya dianggap nol oleh auditor atau JPU,” katanya.
Pencarian Keadilan Seorang Pekerja Kreatif
Dengan suara bergetar dan air mata yang mengalir, Amsal mengungkapkan bahwa dirinya hanya seorang pekerja ekonomi kreatif yang mencari keadilan, tanpa memiliki kekuasaan dalam pengelolaan anggaran. Ia menekankan, “Saya hari ini hanya mencari keadilan, saya pekerja ekonomi kreatif. Yang saya takutkan, jika hal ini terjadi, kami adalah anak muda, pekerja ekonomi kreatif Indonesia akan takut bekerja sama dengan pemerintah.”
“Saya cuma mencari keadilan, Pak. Saya cuma pekerja ekonomi kreatif biasa, Pak. Saya tidak punya wewenang dalam anggaran, sederhananya saya hanya menjual,” tambah Amsal, menegaskan posisinya dalam kasus ini.
Melalui kesaksian tersebut, Amsal mempertanyakan proses hukum yang menjeratnya, mengungkapkan ketidakadilan yang dirasakannya sebagai seorang yang berjuang di sektor ekonomi kreatif.
Sumber: gelora.co (2026-03-30)
0 Komentar