Potensi Prabowo Kuasai Peluang Dua Periode, Tantangan Besar bagi PDIP di Pemilu 2026

Membaca Kekhawatiran PDIP Terhadap Prabowo

Perubahan sikap Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) terkait kebijakan Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap sebagai indikasi kekhawatiran mereka terhadap kemungkinan Presiden Prabowo Subianto memegang kekuasaan selama dua periode.

Protes PDIP dan Inkonsistensi Sikap

Yusak Farchan, pendiri Citra Institute, mengungkapkan bahwa protes PDIP terhadap MBG yang termasuk dalam pos anggaran pendidikan 2026 menunjukkan ketidakcocokan sikap. Yusak menyatakan, "Kalau mau konsisten, harusnya dari awal PDIP menolak program MBG agar standing position-nya jelas, bukan oposisi nanggung," ketika diwawancarai pada Selasa, 3 Maret 2026.

Alokasi Anggaran dan Protes

Menurut Yusak, PDIP seharusnya sudah mengetahui bahwa alokasi anggaran MBG dimasukkan ke dalam anggaran pendidikan di APBN 2026, bukan justru mengeluh di tengah pelaksanaan program. Ia menambahkan, "UU APBN 2026 yang di dalamnya memuat anggaran pendidikan/MBG kan sudah melewati kesepakatan pemerintah bersama DPR, termasuk tahap pengambilan kesepakatan di Banggar DPR."

Agenda Politik di Balik Protes

Yusak meyakini bahwa protes PDIP terhadap alokasi anggaran MBG merupakan bagian dari agenda politik mereka, seiring dengan kekhawatiran akan posisi Prabowo yang semakin kuat menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2029. "Secara politik, kalau program MBG berhasil, maka posisi Prabowo semakin kuat," ujarnya.

Peluang Elektoral Prabowo

Dia juga mengisyaratkan bahwa PDIP mulai mengantisipasi potensi elektoral Prabowo ke depan. Jika program MBG berjalan sukses, Prabowo akan menjadi pesaing yang tangguh di Pemilu 2029. Yusak menekankan, "Kalau elektabilitas Prabowo semakin kuat, maka PDIP jelas tidak diuntungkan di 2029. Jagoan PDIP bisa keok lagi lawan Prabowo." pungkasnya.



Sumber: gelora.co (2026-03-03)

0 Komentar

Produk Sponsor