
Prabowo Tak Perlu Menjadi Mediator Konflik
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, berpendapat bahwa usaha Presiden RI Prabowo Subianto untuk terbang ke Iran sebagai mediator dalam konflik antara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran memiliki kemungkinan sukses yang sangat kecil.
Perhatian Publik Terhadap Kebijakan Internasional
Bhima menjelaskan bahwa saat ini, langkah-langkah pemerintah Indonesia di arena internasional tengah mendapat sorotan publik, terutama setelah Indonesia resmi bergabung dengan Board of Peace atau Dewan Perdamaian Gaza yang dipimpin oleh AS.
Dia menilai, "Perjanjian dagang dengan AS saja banyak poin yang merugikan Indonesia, harus dibatalkan. Apalagi mau ikut-ikutan jadi juru damai, kelihatannya kita tidak punya daya tawar," ungkapnya dalam wawancara pada Senin (2/3/2026).
Fokus Pada Masalah Dalam Negeri
Melihat situasi ini, Bhima menyarankan agar Prabowo lebih baik tetap berada di dalam negeri. Dia menekankan bahwa kondisi perekonomian Indonesia pasca-konflik di Timur Tengah memerlukan perhatian langsung dari pemimpin negara. "Prabowo sebaiknya fokus untuk selesaikan masalah ekonomi di dalam negeri, kurangi perjalanan ke luar negeri," tegasnya.
Dia juga menambahkan bahwa seharusnya Prabowo, sebagai pemimpin negara, lebih baik mengurus berbagai persoalan yang ada di dalam negeri. "Iya buat apa. Urusan dalam negeri lebih mendesak," sambung Bhima.
Pentingnya Ruang Fiskal untuk Ekonomi
Menurut Bhima, pemerintah juga perlu menyediakan ruang fiskal yang memadai agar tidak terjadi kepanikan di masa depan.
Dia mengingatkan bahwa pasar global diprediksi tidak akan mudah memberikan pinjaman kepada negara-negara, termasuk Indonesia. "Butuh ruang fiskal yang memadai sebagai shock buffer. Kedepan tentu tidak mudah menerbitkan utang pemerintah terutama di pasar global. Jadi cash flow yang ada dari pajak harus dihemat pemerintah. Banyak langkah mitigasinya," tukas dia.
Sumber: gelora.co (2026-03-03)
0 Komentar