
Rocky Gerung Respon Tindakan Tiyo Ardianto
Rocky Gerung, seorang alumnus filsafat dari Universitas Indonesia, memberikan tanggapan terkait aksi dan strategi Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, yang juga merupakan lulusan filsafat.
Tiyo Ardianto saat ini tengah menjadi sorotan publik berkat keberaniannya dalam menyampaikan kritik terhadap Presiden Prabowo Subianto, terkait isu siswa bunuh diri di NTT serta polemik Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kritik Tiyo yang Menjadi Sorotan
Dalam sebuah unggahan di akun YouTube resminya, Rocky Gerung menyebutkan bahwa tindakan Tiyo Ardianto sebagai mahasiswa filsafat menarik perhatian, terutama dari kalangan intelijen yang merasa khawatir akan ada maksud terselubung di balik pernyataan dan sikapnya. Tiyo, meskipun menghadapi teror dan ancaman pembunuhan, tetap berusaha membangkitkan semangat reformasi di kalangan mahasiswa.
Respon Terhadap Ancaman
“Akhirnya Ketua BEM UGM, yang lebih penting dia adalah mahasiswa jurusan filsafat, jadi pusat perhatian dan intelektual, jadi pusat perhatian terutama dari kalangan intelijen yang menganggap bahwa ada sesuatu di belakang ucapan Tiyo itu yang tembus berjuta-juta followers, ada sejenis kepanikan,” ungkap Rocky. Ia juga menambahkan bahwa Tiyo mengirim surat kepada UNICEF dan menyampaikan kritik tajam kepada presiden sambil mengenakan kaus bertuliskan “Maling Berkedok Gizi”.
Refleksi Kemarahan Mahasiswa
Rocky Gerung berpendapat bahwa sikap Tiyo merupakan cerminan dari kemarahan mahasiswa yang tertahan akibat aksi unjuk rasa sebelumnya pada bulan Agustus, di mana banyak mahasiswa yang ditangkap, dan bahkan mengakibatkan tewasnya seorang pengemudi ojek online oleh mobil rantis Polri. “Kita bisa melihat ini sebagai endapan dari kemarahan mahasiswa dan kita sebut aja itu sebagai subkultur,” jelasnya.
Rocky menjelaskan bahwa ini adalah bagian dari dialektika yang ingin memastikan adanya keterbukaan dari pemerintah mengenai isu-isu yang dibawa mahasiswa, seperti kemiskinan, pendidikan, dan pelanggaran HAM. “Dia marah sebagai akademisi yang paham dengan kebijakan, bahkan dia terangkan dengan bagus di situ,” tambahnya, menunjukkan bahwa kemarahan Tiyo bukan sekadar emosi biasa, melainkan merupakan respon intelektual terhadap kondisi yang ada di negeri ini.
Sumber: gelora.co (2026-02-24)
0 Komentar