Kritisi Capaian Kinerja Fiskal Pemerintahan Prabowo, Said Didu: Terburuk dalam 6 Tahun Terakhir


Dalam konteks pemerintahan yang baru berusia 1 tahun, isu fiskal dan ekonomi menjadi sorotan utama. Terlebih lagi, data terbaru menunjukkan adanya penurunan dalam kinerja fiskal yang patut mendapatkan perhatian serius. 

Hal ini menjadi perbincangan di kalangan pengamat dan analis, terutama dengan latar belakang janji-janji yang dicanangkan saat Pemilu.

Said Didu Sebut Kondisi Fiskal Semakin Memburuk

Dalam sebuah pernyataan yang diunggah di platform media sosial X, Muhammad Said Didu menggarisbawahi beberapa data terkait realisasi anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) di tahun pertama pemerintahan Prabowo Subianto.

 Menurutnya, angka-angka yang diperoleh menunjukkan bahwa kondisi fiskal semakin memburuk. "Data menunjukkan bahwa realisasi fiskal (APBN) di tahun pertama pemerintahan @Prabowo makin memburuk," ujarnya dengan tegas.


Rincian Data sebagai Indikator

Didu menguraikan lebih lanjut tentang realisasi belanja negara yang mencapai Rp3.451,4 triliun, yang berarti 95,3% dari target yang ditetapkan sebesar Rp3.621,3 triliun. 

Meskipun angka ini lebih tinggi 2,72% dibandingkan belanja tahun 2024, ada kekhawatiran mengenai penerimaan negara yang hanya mencapai 91,7% dari target yang ditetapkan, yaitu Rp2.756,3 triliun dari target Rp3.005,1 triliun.

Lebih lanjut, Didu mencatat bahwa penerimaan perpajakan juga menunjukkan tren negatif, hanya mencapai 89% dari target, atau Rp2.217,9 triliun dari target Rp2.490,9 triliun. "Terburuk 6 tahun terakhir," tegasnya, menambahkan bahwa defisit anggaran pun meroket dari target Rp662 triliun menjadi Rp695,1 triliun, sebuah lonjakan yang menandakan ketidakstabilan fiskal di tengah upaya pemulihan pascapandemi.


Pertanyaan Atas Kinerja Pemerintah

Dalam analisisnya, Didu mempertanyakan apakah kinerja fiskal yang buruk ini merupakan warisan dari pemerintahan sebelumnya di bawah Jokowi ataukah mencerminkan kekurangan dalam kepemimpinan Prabowo. "Pertanyaannya adalah apakah kinerja fiskal tersebut merupakan residu permasalahan yg ditinggalkan oleh rezim Jokowi atau memang kinerja rezim Prabowo lebih jelek?" ungkapnya.

Didu juga tidak segan untuk meminta tindakan konkret dari Presiden Prabowo. Ia berharap agar langkah-langkah nyata diambil, termasuk kemungkinan merombak kabinet. "Karena tidak cukup lagi hanya dg pidato dan memuji kinerja Kabinet yang faktanya kinerjanya tidak seindah yang dipidatokan," katanya, menyerukan perlunya tindakan nyata daripada sekadar retorika.


Menanti Langkah Kongkrit

Dalam konteks ini, masyarakat dan pengamat politik tentu menantikan langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah untuk memperbaiki situasi fiskal yang tengah dihadapi. 

Apakah pemerintah akan mampu memberikan solusi yang berarti, atau akankah kita terus menunggu perbaikan yang seolah tak kunjung datang? Waktu akan menjadi penentu dalam perjalanan pemerintahan ini.

Dengan semua data dan argumen yang dipaparkan, semakin jelas bahwa tantangan fiskal yang dihadapi pemerintahan saat ini bukanlah hal yang sepele. Ini adalah isu yang memerlukan perhatian serius dan tindakan yang cepat.

Sumber: Muhammad Said Didu, @msaid_didu di X (Twitter), 13 Januari 2026.

0 Komentar

Produk Sponsor