
- Aktivis 98 Yulian Paonganan menyebut organisasi relawan Pro Jokowi sebagai "relawan semu" karena dianggap kehilangan arah setelah Pemilu 2024.
- Yulian menilai bahwa Projo hanya aktif saat ada kepentingan politik, tanpa konsistensi dalam gerakan kerelawanan jangka panjang.
- Istilah "kabinet bayangan" digunakan Yulian untuk menggambarkan posisi Projo dalam lingkaran kekuasaan, meski hanya sebagai perumpamaan.
Aktivis 98 Yulian Paonganan mengkritik organisasi relawan Pro Jokowi, yang dia sebut sebagai "relawan semu."
Kritik Pedas Terhadap Projo
Melansir pemberitaan dari democrazy.id pada 28/08/2026, Yulian menilai bahwa aktivitas politik kelompok tersebut tidak memiliki arah gerakan yang jelas setelah kepemimpinan Presiden Joko Widodo.
Dia menambahkan bahwa polemik yang terjadi baru-baru ini kembali membuka pertanyaan lama mengenai posisi Projo.
Menurut Yulian, organisasi relawan ini sudah mulai kehilangan arah sejak Pemilu 2024.
“Projo itu relawan semu. Ramai ketika ada kepentingan politik, setelah itu tidak jelas arahnya,” ujar Yulian, dikutip Jumat (28/8/2026).
Posisi dan Dinamika Projo
Yulian juga menjelaskan bahwa sifat dasar Projo sebagai organisasi relawan membuat mereka sulit dipisahkan dari dinamika perebutan kekuasaan.
Dia berpendapat bahwa aktivitas mereka lebih mudah muncul saat ada momentum politik tertentu, bukan sebagai gerakan kerelawanan yang konsisten dalam jangka panjang.
Istilah 'Kabinet Bayangan'
Yulian menggunakan istilah "kabinet bayangan" untuk menggambarkan posisi kelompok relawan di sekitar lingkaran kekuasaan, meski ia menegaskan istilah tersebut hanya sebagai perumpamaan.
“Kalau istilah kabinet bayangan itu, ya maksudnya cuma perumpamaan saja. Jangan dianggap sebagai kabinet resmi,” katanya lebih lanjut.
Kesimpulannya, pro dan kontra tentang posisi Projo di ruang politik semakin memanas, dan Yulian mengajak kita untuk berdiskusi tentang situasi ini.
Menurut kamu gimana tentang berita ini? Yuk, share pendapat kamu di kolom komentar!
Sumber: democrazy.id (28/08/2026)
0 Komentar