
Isu Pemakzulan Presiden Memunculkan Dugaan Desain Tersembunyi
Perdebatan mengenai isu pemakzulan Presiden Prabowo Subianto yang berkembang belakangan ini, dipastikan melibatkan pihak-pihak yang memiliki agenda tertentu.
Hal tersebut diungkapkan oleh Pangi Syarwi Chaniago, CEO dan pendiri Voxpol Center Research and Consulting, dalam sebuah podcast Madilog yang dipandu oleh Margi Syarif, yang ditayangkan pada malam 15 April 2026.
Pemakzulan, Fenomena yang Dirancang
Pangi menegaskan bahwa situasi politik bukanlah suatu yang terjadi secara kebetulan. “Ya, sebenarnya kalau bicara KPI (Key Performance Indicator-red) ya, bahwa peristiwa politik itu fenomena yang tidak ada yang alamiah. Makanya saya termasuk mazhab yang percaya bahwa dalam politik itu ada desain, ada arsitekturnya, ada perencanaannya, ada operatornya, ada yang mendesain,” ujarnya.
Dengan pernyataan tersebut, ia menyatakan keyakinan bahwa isu pemakzulan yang dihadapi oleh Presiden Prabowo adalah hasil dari suatu perancangan.
Keterkaitan dengan Wapres Gibran
Pangi Syarwi mencatat bahwa rangkaian peristiwa yang mengarah pada pemakzulan sudah mulai terlihat sejak Agustus 2025, termasuk pernyataan kudeta dari pengamat politik Saiful Mujani.
Dia melanjutkan dengan menyoroti bahwa sosok yang mungkin paling berperan di balik desain pemakzulan ini adalah Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. “Ketika kita bicara tentang pemakzulan, tentu bicara tentang siapa yang ada di sampingnya, siapa yang paling dekat, kemudian sampai paling mendapatkan keuntungan secara langsung. Yang paling dekat, yang ada di samping, yang tidak jauh-jauh dengan presiden ialah wapres,” jelasnya.
Peringatan Berdasarkan Sejarah
Pemikiran Pangi tidak lepas dari pengamatan historis pada peristiwa-peristiwa sebelumnya dalam politik Indonesia. Ia mengingatkan, “Ketika Soeharto jatuh, karena kudeta rakyat juga (tahun) 98, yang naik Habibie, nggak ada satu paket. Begitu juga ketika misalnya Gus Dur jatuh dikudeta, tidak satu paket, yang naik adalah wakilnya.” Dia menekankan bahwa sejarah menunjukkan, individu terdekatlah yang sering kali berada dalam posisi untuk mengambil keuntungan dari situasi tersebut.
“Ini kan fenomena empirik, peristiwa yang terjadi di masa lalu. Selalu yang harus diwaspada itu menurut saya adalah orang yang paling dekat dengan kita, nggak jauh-jauh. Dan nggak usah nuduh panjang-panjang yang terlalu jauh. Kenapa? Karena mereka langsung mendapatkan manfaat dari itu,” pungkas Pangi.
Sumber: gelora.co (2026-04-16)
0 Komentar